Cerpen Pengalaman Pribadi - UNYANG

Cerpen Pengalaman Pribadi - UNYANG ini sebuah Cerpen yang sangat bagus sekalai untuk di baca ini merupakan karya dari Mujib NS Jawahir moga kalian suka dengan cerpen yang satu ini udah baca langsung komennt yaa di like di share ketemen temen biar dia baca juga okelah silakan baca dech Cerpen Pengalaman Pribadi - UNYANG

Cerpen Pengalaman Pribadi - UNYANG

Renas Santari merupakan sahabat terbaiku. Hari itu dia begitu marah kepadaku, dia meminta untuk mengusaikan hubungan kami. Ah, sungguh membuatku begitu terpuruk. “Mungkin aku tidak pantas untukmu, maafkan aku!” lalu ia pergi meninggalkanku. Kau tahu bagaimana ikut sedihnya capung-capung, sampai-sampai hujan turun dengan begitu deras. Oh, hatiku yang tak kunjung redam dari gundahan hati, mengapa harus dia yang ingin pergi dariku.

Tanggal 4 Juni, hari senin aku datang kepadanya dan memberikan sebuah surat dan kado. Tapi dia tak kunjung berkata. Entahlah apa mungkin dia sudah melupakan semuanya. Aku hanya bisa berharap hampa. Lama sekali aku tunggu dia bicara tapi tak kunjung-kunjung kudengar suaranya, aku begitu rindu suaranya yang lembut. Tahu tidak saat saya mencuri pandang, eh ternyata dia juga, hehe. Kira-kira seperempat jam kami berdiam diri dan kami pun harus berpisah.

***

Pagi itu burung-burung datang dengan sayap yang membiaskan awan-awan. Saat saya memasuki kelas X1, kau tahu apa yang sedang terjadi. Yayan, teman sebangku saya ternyata mencium pipi Renas. Betapa marahnya saya melihat kejadian itu, aku pun menonjokinya sampai terjatuh. Dia pun cepat emosi dan membalas pukulan saya, ternyata sakit juga. Tapi karena emosi saya yang lebih besar maka kemangan ada di tangan saya, dengan berakhir tendangan pada perutnya. Lalu aku julurkan tanganku pada Renas yang sedang menangis di lantai, tapi dia malah lari sekencang-kencangnya menjauhiku, entahlah.

Dia begitu meratapi nasibnya, dia pernah bercerita bahwa ia tidak pernah suka kepada Yayan. Ah, aku hanya bisa memandanginya dari belakang, mendengar isak tangisnya yang membuat butiran-butiran kecil jatuh dari pelopak mataku. Tanpa sadar dia menengok ke arahku, aku pun bergegas menjauh pura-pura tidak melihatnya. Dia pun hanya bisa terdiam sambil mengusap air matanya.

Kejadian tadi pagi membuat aku sangat geram terhadap Yayan. Renas merupakan gadis yang istimewa bagiku, bukan hanya karena pintar, baik, cantik, namun ia sederhana. Dalam kesederhanaannya itu begitu banyak kerumitan yang harus aku tempuh agar mendapatkan kepercayaan darinya. Jika ia bahagia, aku begitu juga merasanya, begitu juga sebaliknya.

Sinar senja hanya mampu aku tatapi, bersama kenangan bersama Renas waktu dulu. Akupun hari itu berniat untuk menuju rumah Renas, walau sebelumnya aku tak pernah ke sana. Sesampai di rumahnya aku begitu merasa deg-deg kan. Entah karena akan bertemu dengan orang tuanya atau karena akan bertemu dengan Renas. Sampai di ruang tamunya, aku pun semakin deg-deg kan. Tapi alhamdulillah orang tuanya ramah sama saya, dan aku pun minta izin bertemu dengan Renas.

“Mujib?” ia menatapku heran. “Iya” aku tersenyum manis. Dia pun duduk di sampingku. “Hm, aku mau ngomongin sesuatu sama kamu! Keluar ayo!” kami pun keluar, menuju brugak depan rumahnya. “Ngomongin apa sih, Jib?” dia masih belum mau menatapku. “Kamu marah ya sama aku?”. “Enggak!”. “Terus, kenapa sudah?”. “Ih, tadi katanya mau ngomongin sesuatu, apa sudah?”. “O, iya ya. Mm, saya cuma mau kenalin rasi bintang Phoenix. Coba lihat langit barat sana!”. Dia pun masih menatap rasi yang kutunjuk dengan susah-susah. Lalu aku menjelasin garis-garis yang harus di hubungkan. Ia pun menggangguk-ngangguk.

Lama kami berdiam di atas brugak, tiba-tiba dia berkata duluan. “Unyang!” bisiknya kecil. “Angin, terimakasih ya! Aku bahagia banget kamu mau temenin saya lihat bintang-bintang!”. “Enggak unyu-unyuku, seharusnya saya yang berterima kasih, karena saya gak pernah ada teman untuk memandangi bintang”. Kami pun berdiam lagi. Aku pulang jam 9 lewat, lalu berpamitan pada orang tuanya.

***

“Renas, aku mohon kembalilah” pintaku pada foto yang sedang ku genggam. Renas yang ada di situ hanya berdiam dan tetap saja tersenyum. Air mataku pun jatuh dengan bebasnya, semakin membuat aku lebih tidak berdaya lagi. “Kenapa harus kau tinggalkan aku di sini sendiri? Mengapa?” aku berteriak dalam kamarku. Renas Santari pindah ke Denpasar dari tempat lahirnya Sumbawa Barat. “Aku hanya berharap engkau mampu menjaga hatimu untukku. Selamanya aku tak akan pernah melupakanmu, Anginku!”

Aku memberanikan diri untuk mengirim puisi ke media di Denpasar, dengan tujuan agar Renas dapat membaca isi hatiku lewat bait puisi, karena sampai sekarang aku belum bisa mendapatkan alamatnya. Dia pergi tanpa ada khabar, dan hanya menitipkan satu kata padaku, ‘Unyang’. Ah, aku pun semakin di landa kesedihan, sungguh membuatku tak punya semangat sama sekali.

Tujuanku untuk mengirimkan puisi sudah bulat, dan aku pun memulainya dari sekarang. “Ah, apa iya akan di publisasikan?” pertanyaan seperti itu aku buang jauh-jauh. Aku pun sudah hampir beratus mengirimkan puisi-puisi ku media masa. Tapi malangnya tak ada satupun yang mendapatkan konfirmasi. Aku pun mulai putus asa, dan sudah hilang harapan. Dengan hati yang sedang terbakar rindu, kutulis sebuah puisi.



Cinta, Aku Butuh Warna



Lama senja berakhir dengan duka

Dan kau datang dengan air mata

Maafkan jika aku melukis luka

Tapi jangan kau usaikan anatara kita



Cinta, aku butuh warna

Yang mampu membuat aku berdaya

Membuat senyum yang bersahaya

Kita habiskan bersama tangis tawa



Cinta, kau butuhkan warna untuku

Agar terang jalan menuju rindu

Diantara kita janagan ada sendu

Buat kita bersama kembali, semalamnya bersatu



Hidupku, adalah kamu.



Puisi itu ku ikutkan dalam sebuah lomba, sebenarnya aku sudah tidak bisa berharap lebih. Tak terpungkiri aku bisa lolos untuk ke tingkat selanjutnya. Dan betapa bahagianya saat lomba itu di adakan di Denpasar. Semangatku kembali pulih kembali, dengan berjuta harapan yang membara aku melangkahkan kakiku dengan niat dapat bertemu dengan Renas.

Sesampai disana aku pun ikut lomba menulis dan membaca puisi, dan tidak begitu megecewaan aku bisa membawa pulang piala juara dua. Tujuan selanjutnya yaitu mencari Renas, tapi aku harus mulai dari mana. Aku pun kembali berputus asa. Esoknya kami mengadakan penyulihan ke sekolah-sekolah untuk meningkatkan minat baca siswa. Di sekolah terakhir kami kunjungi, aku begitu merasa sangat kelelahan. Dan ketika kumelihat seseorang yang berhijab dengan senyuman yang begitu kukenal, aku pun mendesah begitu bahagia, “Anginku?”. Ia membalasanya, “Unyu-unyuku, aku rindu sama kamu” ia mengatakanya sangat pelan dengan malu-malu. Roman wajahku begitu bersinar dan saatnya aku untuk tampil membaca puisi di sekolahnya Renas. Aku melihat dia terus memperhatikanku, selama aku membaca puisi. Hm, hari yang begitu indah. Tapi sayang aku harus kembali ke Sumbawa Barat tak lama lagi.

Sesampai di rumah aku begitu merasa bahagia, dan aku pun lebih giat mengirimkan puisi-puisi ke media Denpasar. Sering dia membalasnya lewat SMS. Ya, itulah akhir cerita yang begitu bahagia walau terpisah oleh jarak, tapi Unyang (Unyu-Angin) akan tetap bersama selama-lamanya.

*****



Ada pun biodata saya:

Nama: Mujib NS Jawahir

No Hp: 087863710937

Itulah sebuah Cerpen Pengalaman Pribadi - UNYANG bagai mana menurut kalian silakan di komet ya buat temen temen bisa kirim ke email admin aja cerpen puisi kalaian yang banyak yaaaa