Cerpen Ayah - KOSONG

Cerpen Ayah - KOSONG  Karya: Dewi S.K a.k.a. Cici merpakan Cerpen Khusus di tujukan kepada sang ayah tercinta dia sangat mencitai ayah nya di jamin cerpen sedih yang satu ini bikin mewek karena cerpen ini sangat sedih lo penasaran bukan dengan cerpen yang satu ini dari sahabt kita silakan dibaca aja dech moga kalian suka den jangan mewk ya siapin tisu sebanyak banhyak nya hehe


Cerpen Ayah - KOSONG

“Ada apa Yah?”
“Tidak apa-apa nak. Cuma tangan Ayah rada sakit.”
“Sakit? Yang sebelah mana Yah? Biar Cika pijitin.”
“Beneran nih? Entar jangan-jangan gak niat, cuma omong
doang.”
“Iiiih Ayah. Orang Cika lagi serius juga. Ya udah kalau nggak
mau dipijitin, kan
Cika yang untung. Weeeeek...”
“Hahaaa, iya-iya..nih, sebelah sini nih yang sakit. Dipijitin yang
bener ya nak,
nanti kalau ada pentholnya Lek Ndhut Ayah beliin.”
“Beneran? Sir, yes sir!!”

Sore itu, tidak terasa firasat apapun. Kedua orang ini, Cika dan Maryono, anak dan bapak melakoni kebiasaan mereka sehari-hari atau mungkin sesore-sore, bercengkerama di kursi teras. Sedangkan ibunya, Surhaningsih menyiapkan makan malam di dapur. Mereka selalu bercanda ria, melepas dan mencurahkan semua penat masing-masing, menceritakan apa yang telah mereka alami di pagi hari tadi kepada masing-masing pula.


Riang serta gembira. Begitulah kata-kata yang dapat melukiskan suasana di dalam keluarga harmonis ini. Cika setiap sore menunggu kakaknya pulang dari sekolah bersama dengan ayah dan ibunya. Haaaah, memang membahagiakan bukan kepalang. Setelah kakak datang, mandi, kemudian mereka berempat menunaikan ibadah Sholat Maghrib bersama. Ayah menjadi imam, yang lainnya menjadi makmum. Setalah sholat Maghrib, mereka makan bersama sambil menonton televisi di ruang keluarga.


Kemudian dilanjutkan kembali acara curhat. Saat ini giliran sang kakak yang menceritakan keluh kesahnya terhadap hari itu. Tentang teman-temannya, pacarnya...cuit cuiiit, dan yang utama tentang pelajaran yang diterimanya. Bisa dibilang keluarga ini adalah salah satu keluarga berpendidikan. Meskipun orang tua bekerja sebagai seorang petani, anak-anaknya sering mendapat ranking di kelas. Hal tersebut juga merupakan didikan kedua orang tua ini yang mengajarkan kepada anaknya cara-cara tertentu agar berhasil dalam belajar.


Setelah acara curhat selesai, mereka akan guyon-guyon alias bercanda. Dan anggota keluarga yang paling sering bercanda antara satu dengan yang lain adalah Cika dan bapakanya. Ia dan ayahnya sering bercakap-cakap dengan cara membolak-balik kata. Misalkan ia berkata: “Aku pengen tuku bakso (aku ingin beli bakso)”, dibalik secara tidak beraturan menjadi “Ka’u ngepen ukut sakbo”. Kemudian, ia dan ayahnya juga sering bermain teka-teki dengan taruhan uang, dan paling sedikit adalah Rp.5.000,-. Misalkan ada teman Cika yang meminjam alat gosok di rumahnya. Ayahnya berkata,”Habis.....apa Cik? Lanjutkan! Nanti ayah beri uang Rp.50.000,- kalau benar.” Maksud aslinya yaitu habis pinjam dikembalikan. Tetapi yang menjadi jawabannya adalah merupakan makna tersendiri di luar maksud aslinya.


“Hmmmmm....apa yha...? Habis gelap terbitlah terang
mungkin?”, Cika menerka.
“Adduuugh!! Sontoloyo!!! Kok yha beneer....ayah kan jadi rugi
Cik. Ckck. Priben tho.”
“Lha kan yang suruh tebak ayah sendiri...jadi yang salah
siapa? Yang untung siapa? Hahahaaaaaaaaa.......”
“Ya udah. Ayah nyerah degh. Anak muda memang pintar
bercicit”
“Owww...so pasti donk. Mana uangnya?”
“Heheee...berhubung ayah belum punya uang, gimana kalau
besok ayah cari, tetapi cari uang kan butuh tenaga, makanya
kamu pijitin sekarang. Gimana?”
“Ahh ayaaaah......yo wes nho.”
“Siiiiippp..”

Ia juga paling suka menggigit dengkul ayahnya itu. Setelah tergigit, ayahnya akan menyerangnya balik dengan menggelitikinya hingga ia ketawa ngakak. Apabila perang ini terus saja berlanjut, geledeg dari mulut ibunyalah yang akan menghentikannya. Merekan berdua akan diam seketika apabila hal ini terjadi. Hanya sang kakak saja yang masih berani cengengesan melihat tingkah laku keluarganya.

Malam itu, ayahnya terbangun karena merasakan sakit di tangan sebelah kanannya. Ibunyapun juga ikutan terbangun. Mereka akhirnya tidak bisa tidur, karena sekali terbangun, ayahnya tidak akan bisa tidur kembali, dan terpaksa ibunya menemani. Mereka aka bercerita tentang tetangga-tetangga yang kadang membuat jengkel, dan topik yang paling sering adalah mengenai anak-anaknya.


Paginya, tangan ayahnya kambuh lagi. Mereka segera memeriksakannya ke dokter di Madiun. Bagai ada petir yang menyambar kepala mereka, bagai terperosok ke dalam jurang terdalam di Arizona, kabar itu menusuk hati mereka. Ayahnya difonis menderita penyakit tumor ganas di dekat paru-paru kiri. Fonis ini telah dapat dipastikan benar karena telah dilakukan berbagai uji laboratorium.



Segera setelah mendengar kabar buruk ini para tetangga datang memberi dorongan keluarga ini bahwa ayah Cika akan segera sembuh. Meskipun Cika tahu bahwa hal ini mustahil terjadi, namun ia tetap percaya akan keajaiban Tuhan.


Tanpa pikir panjang, mereka pada memutuskan agar ayahnya dirawat inap di rumah sakit umum daerahnya. Cika tetap menjalani kehidupannya sebagai seorang anak yang berbakti sekaligus pelajar seperti biasanya, meskipun pikirannya masih agak terganggu perihal ayahnya. Setiap pulang sekolah ia nebeng tetangganya yang akan menjenguk ayahnya. Semua aktifitas dilakukannya di rumah sakit. Mandi, sholat atau ibadah lain plus berdo’a untuk kesembuhan ayahnya, makan, tidur, bahkan belajar pun dilakukannya di sana. Tidak pernah sekalipun ia meninggalkan ayahnya barang sehari. Kemudian esok harinya, ia nebeng lagi dengan pamannya yang belanja sayur di pasar untuk dijual di daerahnya. Ia mandi, ganti baju, dan sarapan di rumah. Baju-bajunya dicucikan oleh bibinya. Setelah pulang sekolah ia kembali menghabiskan waktu bersama ayah dan keluarganya di rumah sakit. Demikian hal ini diulang-ulang selama kurang lebih satu minggu.


Setelah kurang lebih satu minggu ayahnya dirawat inap di rumah sakit itu, pihak rumah sakit mengusulkan untuk mem-bawa ayahnya ke Rumah Sakit Moewardi di Solo untuk men-dapat perawatan lebih lanjut. Mendengar keputusan ini, hati Cika sangat ngilu. “Ya Allah, penderitaan apa lagi yang Kau berikan kepada ayahku. Berilah ia kesembuhan ya Allah.”. Ia terus berdo’a sepanjang waktu. Tak ‘kan bisa ia tidak melihat wajah ayahnya barang sehari saja, karena , ayahnyalah yang membuatnya berlari kencang mengejar prestasi. Tapi mau apa lagi. Bila ini memang jalan terbaik agar ayah tercintanya bisa sembuh, ia merelakannya pindah ke Solo.


Ketika ayahnya telah resmi menjadi pasien RS Moewardi di Solo, ia kembali menekuni aktifitasnya seperti sehari-hari sebelum ayahnya sakit. Hanya bedanya, ia menjalani detik-detik subuh hingga petang tidak lagi bersama sang keluarga terkasih, tetapi bersama paman-bibinya yang bertempat tinggal di seki-tar rumahnya. Sungguh malang nasibnya. Ia tidak memiliki te-lepon untuk menelepon ayah, ibu serta kakanya di Solo sana. Ia berusaha keras memendam rasa kangen yang sangat sangat ke-pada mereka. Tidak pernah sekalipun ia menangis. Ia berusaha menjadi seorang gadis yang tegar dan tabah di mata orang lain. Teman-teman di sekolah pun berusaha menghiburnya, tetapi sekali lagi, Cika tak pernah tidak menunjukkan keceriaan dan kejahilannya, meskipun di dalam, ia serasa ingin menjerit, lari dari kenyataan pahit dunia.


Suatu hari, kabar terburuk sedunia itu pun datang. Pera-saan yang menusuknya ini tidak akan bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sungguh, sungguh mustahil dipercaya. Inalilahi wainailaihiroji’un. Ia telah kehilangan ayah tecinta, terkasih dan ayah nomor satu di dunia-nya. Cika. Kali inilah pertama kalinya aku melihat matanya bercucuran banyak air mata. Ia menjerit-jerit histeris, mengungkapkan rasa tidak terima, marah dan kecewanya kepada Tuhannya. Sangat menyedihkan melihat Cika yang seperti ini.


“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Ayaaaaaaaaaaaaaaaahh........kembalilah!!!! Ya Allah, kau tega ya Allah. Mangapa Kau mengambilnya dariku? Buat apa Kau menciptakan seorang ayah yang sempurna untukku apabila pada akhirnya Kau rampas lagi ia dariku? Aku belum sempat mengucapkan rasa terimakasihku untuknya. Aku belum sempat mengucapkan berjuta maaf kepadanya. Ya Allah, cobaan apa ini? Apakah Kau ingin menguji rasa sayangku kapadanya? Apa Kau hanya ingin bermain dengan perasaanku? Atau mungkin, Kau ingin menguji imanku kapada-Mu? Ya Allah, kembalikan dia. Kumohon..........”Tangisan dan teriakan Cika membahana di seluruh sudut lingkungan sekitar rumahnya. Apalagi semua orang telah berkumpul di depan rumahnya karena mendengar berita ini.


“Sudahlah Cik, jangan kau hakimi Allah dengan diambilnya nyawa ayahmu. Relakanlah ia pergi. Biarkan ia tidur nyenyak di sana. Ini sudah merupakan sebuah takdir. Apakah kau ingin melihat ayahmu menderita karena tidak lekas sembuh, ataukah kau ingin melihat ayahmu tidur dengan sebuah senyuman tersungging di bibirnya?”, bibinya berkata.


“Aku ingin ia tidur dengan nyaman dan tenang”, Cika menjawab.
“Baiklah. Kalau begitu. Sekarang dengarkan kata-kata bibi. Berhentilah menangis, ambil air wudhu, lakukanlah ibadah Sholat Maghrib selama yang kau mau. Kami akan berada di sini menunggumu”, bibinya berkata.


“Baiklah Bi.”
Cika segera menghapus eluh di pipinya. Ia berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kemudian ia menjalankan sholat Maghrib dengan kusyu’ dan memohon maaf kepada Allah karena ia merupakan salah satu hamba yang durhaka kepada-Nya.


“Ya Allah, maafkan diriku yang memalukan dan rendah ini yang telah menghina-Mu. Aku memohon ampunanmu untuk memaafkan semua kesalahanku kepada-Mu ya Allah. Bukakan-lah pintu terang yang dapat membawaku kepada perasaan sadar bahwa ayahku adalah Kau yang menciptakan, sehingga dapat Kau ambil kapanpun Kau mau. Jauhkanlah diriku dari segala setan yang dapat membuatku ingkar kapada-Mu ya Allah. Ya Allah, kali ini tolong kabulkanlah permintaanku. Aku ingin agar ayahku dapat tidur tenang, tentram, serta nyaman disisi-Mu. Jauhkanlah ia dari siksa api neraka serta siksa kubur. Terimalah semua amal ibadahnya ketika ia masih Kau beri nafas. Ampunilah dosa-dosanya. Pertemukanlah kembali kami sekeluarga di dalam surga-Mu. 

Dan, bagi kami yang ditinggalkan kumohon, berikanlah kami kesabaran dan ketawakallan, serta keikhlasan untuk melepaskannya pergi. Berikanlah kami iman yang kuat, sehingga dapat selalu menjadi hamba yang berbakti kepada-Mu. Amin, amin, amin ya robbal ‘alamin.”, pinta Cika kepada Tuhannya.


Jenazah ayahnya telah tiba. Ia membuka kainnya, dan melihat wajah ayahnya yang tampan dan rupawan di sana. “Jangan, jangan menangis Cik. Tahanlah! Jangan membuat ayahmu terluka!”, batinnya.


Semua pelayat menangis tersedu-sedu tidak percaya akan hal ini. Ibu, kakak, paman serta bibi baik yang dari ayah ataupun ibunya, semua pada menangis. Tetapi Cika tidak. Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa setetes air matapun tak kan jatuh di hari itu.


Jenazah telah dimandikan, disholatkan dan siap diantarkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Sebagian pelayat ikut memakamkan atau lebih tepatnya melihat prosesi pemakaman dan sebagian lagi menemani ibunya Cika di rumah.


Mereka telah sampai di tanah makam dan bersiap manguburkan ayahnya, tatapi Cika berteriak. “Tunggu!!!” Kemudian ia bersajak....
“Ayah.......
Kutahu kau mendengarku....
Kutahu bahwa kau tahu ini suara anakmu.....
Meskipun ku tahu kau takkan mampu dan tak kan pernah
mampu lagi membalas kata-kataku untukmu, tetap ‘kan ku
ungkapkan apa yang ada dalam lubuk hatiku...
Maaf, terima kasih dan selamat jalan ayah tercinta, ayah
kebanggaan, ayah sepanjang hayat dan ayah ternomor satu di
dunia-ku.......
Semua cinta, perhatian, keringat, serta pengorbanan yang
telah kau curahkan kepadaku takkan kulupakan sepanjang
diriku masih diberi nafas hingga menjemput ajal..
Jo’o ilal, sayempan dukug mpamir nang pingiku basen
binge....eok?
(Ojo lali sampeyan kudug mampir neng ngipiku saben
bengi...oke?)
(Jangan lupa, kau harus singgah di setiap mimpiku.....oke?)”

Pemakaman telah usai. Ia dan kakaknya masih saja duduk di samping nisan ayahnya. Mereka bersama-sama mengenang masa-masa yang telah mereka lalui bersama sang ayah. Mereka berjanji satu sama lain, mulai saat ini tak kan pernah lagi tinju-tinjuan seperti dulu. Mereka berjanji akan selalu datang dan menjenguk ayahnya di setiap hari Minggu. Mereka berjanji mulai saat ini akan membanggakan ayahnya dengan berprestasi setinggi mungkin. Mereka berjanji akan membawa nama harum ayah serta ibunya hingga nanti mereka tak diberi nafas lagi. Dan, mereka berjanji pula untuk membahagiakan ibunya yang merupakan titipan ayahnya.



Keesokan harinya Cika masuk sekolah. Teman sekelas berusaha mati-matian untuk membuatnya tertawa. Jangankan tertawa, membuatnya tersenyum saja sudah minta ampun susahnya kok. Mulai saat itulah ku tahu, bahwa Cika telah kehilangan separuh dari keceriaan, kejahilan, dan kekocakannya selama ini. Mulai saat itu pula ku tahu bahwa cahaya yang dulu kulihat selalu terpancar dari matanya telah menghilang separuh. KOSONG. Begitulah yang kulihat ketika kami beradu pandang. Sabar ya sobat. Cobaan akan selalu datang pada hamba yang disayang Tuhannya.


Cerpen ini kupersembahkan untuk ayahku tercinta, ayahku nomor satu
di dunia, ayah kebanggaan, dan ayah tersempurna di antara ayah yang pernah ada.

Ayah,...maaf, terima kasih, dan selamat jalan....


Love u 4ever dadddd.....................

 Hik hiksss hukzz Cerpen Ayah - KOSONG sedih banget ya jangan nagis lagi dech komen aja di bawah