Cerita Cinta Sedih - Cerpen Model dan Penulis

Cerita Cinta Sedih - Cerpen Model dan Penulis - masih kiriman dari  Sinta Novia merupakan cerpen yang kedua yang sebelumnya adalah Cerpen Cinta Pertama Di SMA Keran yang kedua ini sama kerennya dengan cerpen yang sebelumnya dari pada penasaran denagn cerpen yang satu ini mari kita baca aja dech kisah dari Cerita Cinta Sedih - Cerpen Model dan Penulis


Model dan Penulis

Anita, ya itulah namaku. Aku sayang banget sama Romi, pacarku tentunya. Entah harus gimana kalau dia sampe ninggalin aku dan pergi meninggalkan aku dan kehidupanku. Mungkin aku  nangis 7hari 7malem, atau mungkin lebih. Aku juga ngerasa kalau dia sayang sama aku. Dan aku harap dia bakal selalu sayang sama aku tanpa batasan waktu. Kebanggaan tersendiri buat aku dapetin cowok yang punya kriteria sebagai idaman wanita. Dia tinggi, putih dan keren. Tapi, bukan itu yang bikin aku suka sama dia. Aku suka sama dia karena sifatnya yang selalu pantang menyerah. Dia juga ga pernah bosen buat dengerin cerita aku yang terbilang ga penting.

Aku sama dia, satu sama lain saling melengkapi. Ga ada kata berantem lama. Oh iya, dia juga punya ambisi jadi seorang model terkenal. Aku selalu support dia.

“Wah, ini nih cita-cita masa depan” jari telunjuknya menunjuk ke sebuah gambar model terkenal dan keren yang terpampang jelas di hadapannya. Wajahnya menoreh ke arahku dan tersenyum.

Aku tersenyum menandakan bahwa aku mendukung ia sepenuhnya. Dia juga membalas senyumanku dengan manis dan ceria.

“Kamu percaya kan kalau aku yang bakalan ada di majalah ini suatu saat nanti?”

Aku kembali tersenyum “Iya, aku percaya. Semangaaaaaaaat!!”  supportku agar dia tetap maju demi ambisi dan keinginannya. 

“Makasih ya kamu selalu nyemangatin aku” 

Lagi-lagi aku tersenyum dan mengangguk “Sama-sama”  ucapku.

Dia selalu berangan dan bermimpi. Banyak gayanya untuk bahan poto. Bahkan, aku saja kalah gaya bila ibandingkan dengannya. Banyak potonya yang di unggah-upload ke jejaring sosial, Facebook. Avatar di Twitternya pun diganti setiap hari dengan berbagai gaya. Kadang aku ngakak sendiri liat gaya-gaya dia yang sok eksis. Tapi bagaimanapun juga, dia adalah pacarku. Aku harus jadi obsesi agar dia bisa mengejar ambisinya.

***

Pak Tio adalah seorang direktur sebuah perusahaan penerbit majalah yang tertarik dengan tampang yang dimiliki Romi untuk dijadikan cover majalah.

“Anitaaaaaa.” teriak Romi menghampiriku, dia tampak kegirangan. Aku menorehkan wajahku ke arah dimana suara itu berasal. Aku terhenti dari langkahku. Romi menghampiri dengan langkah yang cepat. 

“Romi,, kenapa? Seneng kayanya” tanyaku penasaran.

“Liat deh terus baca” dia menyodorkan Handphonenya ke tanganku. Ku lihat di layarnya tampak tampilan Facebook. Message Facebook yang dia maksud untuk tunjukkan padaku. Aku membacanya dan terkaget.

Tio Ariyanto
Selamat siang,
Maaf telah mengganggu waktu anda. Perkenalkan, saya Tio. Direktur perusahaan penerbit majalah EKSIS. Setelah aya melihat profil anda, saya tertarik untuk menjadikan anda sebagai cover majalah saya. Bisakah anda memperkenalkan diri?

Romi purnama
Salah hormat Pak,
Sebelumnya saya berterima kasih sekali atas ketertarikan anda untuk menjadikan saya sebagai cover di majalah anda. Perkenalkan, saya Romi Purnama. Saya duduk di kelas XI, tepatnya di SMA Negeri Mandiri.

Tio Ariyanto
Saya tertarik, tolong anda datang ke perusahaan saya lusa. Jl. Kemerdekaan no. 43, Jakarta.

Romi Purnama
Baiklah, terimakasih banyak Pak.

***

Aku menatap Romi. Sepertinya Romi ingin cepat mengetahui reaksiku setelah membaca message tersebut. Aku menangis senang. Tanda bahwa perasaanku saat ini adalah senang seperti perasaannya. Dia memelukku seraya berkata “Makasih ya kamu  selalu nyemangatin aku”. Dia pun melepas pelukannya. Lalu, ia menghapus air mata kebahagiaanku untuknya.

***

Pagi-pagi sekali dia menghubungiku

“Hallo Anita. Sekarang aku harus pergi ke Jakarta buat ketemu Pak Tio.”

“Kok pagi-pagi banget?” tanyaku.

“Ya, kan kamu tau sendiri gimana macetnya Bandung sama Jakarta.”

“Hehe, iya aku tau tapi, kamu berangkat sama siapa?

“Sendiri” jawabnya terdengar enteng.

“Hah? Sendiri?” aku kaget mendengarnya. Untuk urusan sepenting itu, dia mau berangkat sendirian.
“Iya, sendiri. Keluarga aku belum pada tau, biar ini jadi surprise buat mereka.”

“Oh, ya udah, kamu hati-hati ya. Jaga diri kamu baik-baik.”

“Anita sayang, jangan khawatir. Tenang aja, aku bakal baik-baik aja kok. Ya udah ya aku tutup teleponnya sekarang. Bye..”

“Bye.”

***

Mungkin itu menjadi percakapan terakhir diantara aku sama Romi. Pasalnya, akhir-akhir ini Romi selalu sibuk, sibuk dan sibuk. Sekarang, Romi udah ga pernah bales SMS dariku. Ditelepon pun ga ada gunanya. Dia ga angkat. Kini Handphone ku sepi tanpa SMS dari Romi yang biasanya selalu perhatian setiap waktu. Tapi kini, ga ada. GAK ADAAA!! Dia udah berubah menjadi model terkenal pikirku dan mungkin ga mau ada aku di kehidupannya lagi. 

Bangku taman pun kini bukan tempat istimewa lagi buatku, tempat yang dimana pasti hanya ada aku dan Romi, kini orang lainlah yang menduduki bangku taman itu. Hingga akhirnya aku putuskan untuk mendatangi kelasnya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Di depan kelasnya aku liat kerubungan orang banyak dan suasananya rame banget setelah aku mendekat, ternyata orang yang berada di tengah kerubungan orang banyak tersebut adalah Romi. Hingga akhirnya aku mengurungkan niatku untuk menghampirinya. Karena aku yakin, dia tak kan meluangkan waktunya untukku walau hanya satu menit. Berbeda dengan dahulu, sebelum ia terkenal. Dia selalu ada waktu untukku.

Aku berjalan mundur dengan pelan tak perduli orang di sekitarku. Aku hanya berjalan dan berjalan mundur. Tak sengaja aku menubruk orang yang berjalan berlawanan dengan arahku. Aku kaget, segera aku membalikkan badanku dan meminta maaf.

“Ups, maaf” ujarku.

“Emh, ga apa-apa” kata cowok tinggi yang aku tabrak tadi. “Aku Rama, kelas XII. Kayaknya aku jarang liat kamu ya. Kelas berapa?”

“Aku Anita, kelas XI”. Di suasana kayak gini masih aja ngajak kenalan dengan modus pura-pura jarang liat aku. “Sekali lagi aku minta maaf ya” lanjutku lalu pergi.

***

Sepulang sekolah, aku ganti baju lalu mengambil minuman segar dan menuangkannya ke gelas. Ya, itung-itung mendinginkan perasaanku tadi. Aku lihat siaran di televisi, ada wawancara di salah satu channel. Sepertinya aku kenal seorang yang sedang berada di tengah wartawan tersebut dan dengungan ribuan pertanyaan. Romi, ya dia Romi.

“Bagaimana perasaan anda dengan menjadi terkenal cover majalah yang disegani oleh semua orang. Khususnya anak-anak remaja?” tanya salah seorang wartawan yang berdiri tepat di dekatnya. 

“Ini semua karena semangat dari orang tua dan teman-temanku” jawabnya. Aku kecewa dengan jawaban darinya. Dulu dia bilang, aku dan aku lah penyemangatnya.

“Apakah anda sudah memiliki pacar?” tanya wartawan lain.

“Pacar?” tanya Romi lalu dia tertawa.

Aku deg-degan. Akankah namaku terngiang di layar kaca televisi?

“Aku ga punya pacar” jawa Romi enteng. 

Mendengar itu, aku “Shock”.  Dianggap apa aku selama ini? Gelas yang aku genggam tak sadar terjatuh dan pecah dengan seketika. Air mataku menetes. Hatiku hancur, remuk tak tersisa. Tak menunggu lama, langsung aku matikan televisi itu. Aku banting remotenya. Dan segera aku pergi ke kamar. Pecahan beling yang berhamburan, tak ku hiraukan. Yang aku rasakan hanya perih dan hancur. 

***

Selama ini aku mencoba melupakan semua tentang kenanganku dengannya. Aku berniat untuk melupakan dan memusnahkan dia dari hatiku.  Aku menyibukkan diriku sendiri. Hingga akhirnya aku terbiasa tanpa hadirnya dalam hidupku. Hanya Rama lah kini yang datang untuk menghiburku. Rama, orang yang pernah aku tabrak waktu itu dia selalu menghibur saat aku terpuruk karena Romi.

***

Aku mendapat pemberitahuan bahwa karya-karyaku diterima dan akan dimuat di Majalah begitu pula dengan Novel yang aku karang, dan akan diterbitkan. Itu menjadi sebuah kebanggan tak terhingga untukku. Tak lama kemudian, novelku menjadi Best Seller. Dan aku mendapat gelar sebagai penulis temuda dengan umur 16 tahun. Memang, menulis adalah salah satu dari hobbyku dan menjadi kebiasaan di saat ada waktu luang. Dan aku diundang pada acara Reallity Show.

***

“Bagaimana perasaan anda dengan dijuluki sebagai penulis termuda? Novel anda pun menjadi Best Seller"  Tanya Pemandu Acara di Reallity Show tersebut.

“Aku sangat berterima kasih sekali kepada Allah SWT, orang tuaku dan teman-temanku yang mendukungku sampai sejauh ini serta seseorang yang menjadi sumber inspirasiku.” jawabku.

“Apakah anda mengenal sosok orang di poto ini?” pemandu acara menyodorkan sebuah poto dan yang aku liat gambar di poto itu adalah Romi.

“Hm, dari mana anda mendapat poto ini?” tanyaku heran.

“Kru mengumpulkan data tentang anda, dan Tim Kru mendapatkan poto ini dari poto yang terupload di Facebook Romi Purnama” jawabnya.

Aku kaget. Bukannya terakhir aku melihat poto-potonya bersamaku telah dia hapus semua? Dan saat aku mengetahui hal itu aku semakin jatuh dan merasa tiada berguna. Setelah dia terkenal, potoku dengannya lenyap di delete olehnya. Dan apa maksudnya setelah aku terkenal dengan karya-karyaku dia kembali mengupload potonya dulu bersamaku.

“Emh. Iya, aku mengenalinya. Ini Romi, model cover majalah.” Jawabku sesingkatnya

“Ada hubungan apa antara anda dengannya?”

Aku terdiam sejenak. Jawaban apakah yang akan ku berikan saat ini. Di satu lain memang aku pernah mempunyai hubungan dengan Romi. Tapi,, aku refleks berkata “Saya mengenalinya. Kami satu sekolah. Dan dia yang dulu selalu bilang ‘Makasih ya kamu selalu nyemangatin aku’.

“Maksudnya?” tanya pemandu acara penasaran. Aku memilih diam dan tak akan ku jawab. Ku takut ada kesalahpahaman yang nanti akan terjadi saat ketika ku salah berucap. Pemandu acara yang merasa ku tak kan menjawab pertanyaan tersebut, lalu segera angkat bicara “Mari kita hadirkan Romi Purnamaaa” serentakan tepuk tangan berderu ramai. Aku kaget dan bingung, mengapa Romi harus dipanggil pada acara ini? Dia berjalan mendekatiku dengan perlahan. Aku memalingkan wajahku sejenak ke arah lain. Pandanganku kosong. Kini ku lihat Romi sangat dekat denganku, dia bersujud,,

“Maafin aku ya, aku yang pernah ga ngakuin kamu waktu itu” ucapnya.

Aku menorehkan wajahku dan menatapnya dalam, masih dengan pandangan kosong yang ku rasa saat ku tatap kedua bola matanya. Dan aku masih memilih untuk menjawab pertanyaan itu.

“Memang sebelumnya ada hubungan apa diantara kalian berdua?” tanya pemandu acara yang sangat terlihat penasaran dengan apa yang terjadi kini.

“Dia adalah pacarku” jawab Romi. ,

“Pacar?” pemandu acara mengulangi kata yang Romi utarakan.

“Memang salah saya yang pernah tak mengakuinya kala itu.”

“Mengapa?” tanya pemandu acara kembali. Kali ini Romi tak menjawab pertanyaan itu. Keliatannya dia malu, karena dia tak ingin mengakuiku sebagai pacarnya yang saat itu aku hanya orang biasa, sedangkan Romi seorang model  terkenal cover majalah. Aku langsung mnyambar untuk mengisi kekosongan waktu.

“Emh, itu kan dulu, ga apa-apa kok, lupain aja” lanjutku sembari tersenyum.

“Jadi, kamu mau kembali padaku?” tanya Romi.

Aku terdiam sesaat. “Maaf, untuk itu aku ga bisa”  jawabku.

“Kenapa?” potongnya.

“Karena selama ini ada Rama yang selama ini menggantikanmu di saat tiada hadirmu untukku” jelasku singkat dan mengundang ribuan pertanyaan baginya.

“Rama? Siapa?” tanyanya heran.

“Bayangan semu di hatiku yang berubah menjadi nyata serta mampu menggantikanmu yang pergi tanpa pamit” ucapku memperjelas.

Dia membeku. Perlahan air matanya turun dengan pasti. Tangis penyesalan. Dia berlari meninggalkan tempat itu dan melemparkan bingkisan yang berisikan foto-fotoku dengannya saat dulu denganku, hingga akhirnya foto tersebut berhamburan.

The End_ SintaNovia follow me on @shintanovia1

Demikian lah Cerita Cinta Sedih - Cerpen Model dan Penulis Moga aja Kalian uka ya ntar akan di apdet cerpen yang ke 3 dari novia hhe