Cerpen Tentang Cinta Jarak Jauh : Jarak Cinta

Cerpen Tentang Cinta Jarak Jauh : Jarak Cinta kali ini dapet sebuah Cerpen cinta yang sangat romantis sekali merupakan sebuah Cerpen Galau karena jarak yang memisahkan masih ada cinta walau sudah punya pasangan. wah apa maksudnya yo? itulah Pernak Pernik Cinta Like This dolo dech

Cerpen Tentang Cinta Jarak Jauh : Jarak Cinta
Karya : Shela Kusuma J


      Meita baru saja menerima amplop yang di dalamnya berisi kertas yang menyatakan apakah ia lulus ujian nasional SMA tahun ini. Tentu saja perasaannya deg-degan sekali sebab tulisan di kertas itu sangat menentukan apakah usahanya belajar selama tiga tahun di SMA Negeri 1 Kendatala sia-sia atau tidak. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal karena dipeluk oleh teman-temannya dengan kencang sembari meluapkan ekspresi kegembiraan dan rasa syukur sebab mereka sudah dinyatakan lulus terlebih dahulu daripada Meita. Baru beberapa detik Meita merobek amplop dan mengintip isinya, Meita langsung melonjak kegirangan. Mama Meita menjadi sasaran kegembiraan dia. Tante Restanti hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah lucu putri sulungnya yang masih tetap menggelendot manja di pundak Tante Restanti.
     
  

Tiba-tiba lagu pretty boy dari M2M mengalun dari handphone Meita yang berada di saku roknya. Getaran ringtone itu membuat Meita geli lalu cepat-cepat melihat sms dari siapa yang dating. “Mei mama pulang dulu ya. Kalau kamu mau main dulu sama temen-temen kamu mama izinin kok,” ujar Tante Restanti. ”Oke sip Ma”, timpal Meita sembari melihat sms yang masuk.
      From  :  Becak (+6285740968***)
      Message : ”Gimana Kodokku Cantik kamu lulus apa gak?
      Meita hampir saja lupa memberi tahu Genta pacarnya tentang kabar gembira ini. Untung saja Genta sms disaat yang tepat.
      Buru-buru Meita mengabarkan bahwa ia lulus kepada Genta. Genta adalah pacar Meita yang baru duduk di kelas sepuluh satu sekolah dengan dia.
      Euforia kelulusan kelas dua belas telah usai sekarang saatnya mereka yang dinyatakan lulus untuk memutuskan akan melanjutkan ke perguruan tinggi, melamar pekerjaan lalu bekerja atau pilihan lain yang mereka tentukan sendiri.
      ”Ma aku bosen di rumah ni. Bingung mau ngapain. Pengen main tapi kok temen-temen pada sibuk mendaftar kuliah,” ujar Meita sambil menggerutu.
      ”Ya udah sono kamu juga ikutan mereka aja daftar. Nemenin mereka toh juga gak papa si Mei? Jangan mentang-mentang kamu udah tenang gara-gara keterima PMDK. Kamu juga perlu tahu gimana susahnya cari kuliah,” jawab Tante Restanti.
      ”Iya-iya Ma. Aku turutin saran mama deh. Lagian si Genta juga masih sekolah paling,” ujar Meita.
      Meita mutusin buat nelpon Fani ”Blonde” sahabatnya sejak TK.
      ”Hallo Blond planning lo hari ini ngapain aja?”
      “Hmm apa Mih suara lo kagak kedengeran ni. Speaker hp gue soak,” jelas Blonde sambil nguap dan kucek-kucek mata.
      ”Ah elo mah molor mulu. Elo mau ngelengkapi berkas-berkas pendaftaran gak? Hari gue lagi baik hati mau banget nemenin elo Blond.”
      ”Eh eh tunggu. Elo ngomong apa Mih? Tumben elo baik gini. Lagi kumat apanya ni? Jangan-jangan elo ada pamrih ya?” selidik Blonde.
      ”Ih elo parno mulu pikirannya ke gue. Gini-gini gue jelasin detailnya. Gue hari ini boring banget gak ada kerjaan. Tu si Becak juga lagi sekolah. Gristi adik gue juga sekolah. Mama kerja. Masak gue di rumah sendirian ma kura-kura gue. Bisa lumutan ni badan.”
      ”Oh gitu. Iya deh kamu ntar temenin gue ke SMA ya? Gue mau cari piagam gue yang masih disimpen sama Pak Tamto. Itung-itung kalo elo lagi mujur elo bisa ketemu sama Genta.”
      ”Oke siip Blond. Dua puluh lima menit lagi gue sampai ke rumah elo. Sono buruan elo mandi.”
      ”Beres Mih.”
      Lima belas menit kemudian Meita sudah meluncur ke rumah Blonde dengan skuter matik keluaran terbaru. Jarak rumah Blonde dengan rumah Meita cukup jauh juga si. Kira-kira sepuluh kilometer.
      ”Tin-tin-tin.”
      Meita membunyikan klakson motornya setibanya di depan rumah Fani ”Blonde”. Biasanya Meita langsung turun dari motornya sambil menggedor-gedor gerbang rumah Blonde yang terbuat dari besi tak lupa dengan teriak-teriak memanggil nama Blonde.
      Blonde sudah hapal dengan kelakuan temannya yang satu ini jadi dia sudah maklum dan hanya bisa ketawa melihat tetangganya ngomel dengan ulah Meita.
      ”Rambut elo benerin dulu tu Mih. Apa gue harus pinjemin elo sisir?”
      Dasar si Meita emang muka tembok tanpa ragu-ragu dia mengiyakan tawaran si Blonde.
      Lima menit mereka habiskan hanya untuk ngobrol di depan rumah Blonde. Blonde melirik jam monol square yang melingkar di pergelangan tangannya.
      ”Mei ayo buruan berangkat udah jam sepuluh ni.”
      ”Ayo Blond. Pake ni helm.”
      ”Gue naik ke motor elo sekarang ya?”
      ”Iya Blond. Pegangan ya. Gue mau pacu ni motor sekenceng mungkin.”
      ”Dasar gila elo. Ati-ati. Awas ya gue belum nikah sama Mas Fredo.”
      Mereka berdua langsung berubah mimik mukanya ketika sampai di depan SMA Negeri 1 Kendatala.

      ”Sumpah Mih gue bangga banget sempet bisa sekolah di SMA segede ini. Apalagi kita menghuni kelas KEDUBES ID dengan segala kegokilannya.”
      ”Haha iya dong.”
      Tiba-tiba suara yang familiar di telinga mereka mengagetkan lamunan dua anak-anak yang lagi kegirangan ini.
      ”Meita ? Fani ? Mau ngapain ?”
      ”Ehm oh,” jawab mereka setengah kaget terbata-bata.
      ”Bu Gik ? Kita ke sini mau ngurus piagamnya Fani Bu.”
      ”Iya Bu. Piagam saya masih di sekolah dan disimpan Pak Tamto.”
      ”Ya sudah selesein dulu kepentingan kalian. Semoga sukses ya.”
      ”Iya. Amin dan makasih ya Bu.”
      Kira sudah dua jam mereka berada di SMA Negeri 1 Kendatala dan urusan Fani sudah selesai namun mereka belum juga ketemu dengan Genta.

      Mereka mutusin buat kangen-kangenan dulu ke kantin Pak Alex. Jaman-jaman ngutang es dan gorengan habis pelajaran olahraganya Pak Wal, tambah sate kerang tapi gak bayar, mie ayam minta tambahan suwiran daging ayam. Pikiran mereka melayang kepada kenangan masa lalu. ”Nice and sweet memory,” batin mereka.
      “Mei itu si Genta.”
      “Gentaaaa,” panggil Mei.
      Genta masih kebingungan karena belum menemukan asal suara yang memanggilnya. Genta memutuskan untuk berlalu begitu saja dan tak menghiraukan asal suara tadi.
      ”Gen kayaknya tadi ada yang manggil kamu deh,” tanya Aria teman Genta.
      ”Iya sih Yak tadi aku juga denger. Tapi aku bingung siapa yang manggil aku. Suaranya kayak familiar banget di telinga kita ya?”
      ”Hmm. Bener sih katamu Gent.”
      ”Tadi kan kita terburu-terburu takut telat lalu dimarahi Pak Wal.”
      ”Ya udahlah Gen lupain aja suara tadi.”
      Genta dan Aria menganggap suara tadi hanya halusinasi dan imajinasi mereka belaka. Padahal tadi kan memang ada suara yang memanggil Genta. Bagaimana kalau Meita tahu soal ini ya? Pasti dia langsung sedih dan merasa sudah tak ada artinya di hati Genta.
      Meita memilih untuk sms Genta terkebih dahulu.
      To  : Becak (+6285740968***)
      Message : “ Cak kamu tadi kok gak noleh si waktu aku panggil?”
      Lima menit kemudian balasan dari Genta diterima Meita.
      From  : Becak (+6285740968***)
      Message : “Apa Kodok ? Kapan kamu manggil aku ? Kamu ke sekolah tadi ?
      Sepuluh menit kemudian Genta menerima balasan pesan dari Meita
      From  : Kodok (+6285727802***)
      Message : ”Alah kamu sama suara pacar sendiri aja lupa. Ya uda deh mending ngurusin cewek laen aja sana !!!! L
      Maksud Meita mengirim pesan singkat semacam itu adalah agar pacarnya mengubah sikap playboynya yang selama ini sukar dihilangkan.
      Sudah seminggu lebih Genta dan Meita tidak kontak-kontakan. Keduanya kukuh mempertahankan pendapat masing-masing. Mereka tidak ada yang mau saling mengalah. Ego mereka berdua memang gede banget.
      Fani ”Blonde” sebagai sahabat Meita tak tega melihatnya. Ia berinisiatif untuk menasehati Meita.
      ”Mei udahlah kamu yang umurnya lebih gede daripada dia mendingan ngalah dikit gak papa lah. Toh ini juga buat kepentingan kalian berdua.”
      ”Blond aku udah capek. Selama setahun lebih kita pacaran sikapnya gak berubah-berubah.”
      ”Iya itu konsekuensi elo terima dia jadi pacar kamu. Elo kudu siap nerima dia apapun keadaannya.”
      ”Iya-iya !! Hati gue sebenarnya gak tahan juga lama-lama didiemin ma dia mulu. Gue telpon dia deh.”
      Meita memencet tombol di handphone Nokia E 51 miliknya. Sudah bisa ditebaklah nomor siapa yang dia hubungi. Baru beberapa detik saja sudah ada tanda bahwa nomor Genta aktif. Entah kenapa selama tiga menitan kuping Meita ditempelin di speaker handphonenya yang ia dengar hanya lagu ” I Will Fly ” kepunyaan Ten 2 Five.
      ”Ni anak ke mana sih? Ditelepon gak diangkat-angkat. Bangga banget dia bikin idup gue kayak gini. Dasar cowok !!!” umpat Meita di batin.
      Tak disangka di ujung telepon muncul suara serak cowok yang membuat jantung Meita berdegup kencang.
      ”Napa Kodok tumben nelpon aku? Udahan ya marahnya ?”
      ”Ih pede banget kamu Cak. Maksudku nelpon kamu tu, ntar malem kita ketemuan di kafe tempat biasa. Jam tujuh kamu jemput aku ya !”
      ”Telpon-telpon malah nyuruh-nyuruh. Huu dasar kamu Kodok jutek J. Kamu dandan yang cantik ya.” Emmuacch. Bye.”
      Mulut Meita tersekat mendengar kalimat penutup yang keluar dari mulut Genta. Dia hanya bisa menelan ludah dengan muka berekspresi kaget.
      Sudah tak sabar Meita menanti pukul 19.00 WIB. Dari tadi dia hanya mondar-mandir kamar dan teras rumah.
      ”Mei pakaian kamu dirapiin dulu tu. Ngapaian sih diberantakin semua. Pakai dikeluarin dari lemari semua??” omel Mamanya.
      ”Upps iya deh Ma. Tadi Meita lupa sih. Saking semangatnya mau ketemu Genta.”
      ”Ciee anak mama lagi girang kayaknya malem ini.”
      Gristia adik Meita pun ikutan nimbrung.
      ”Kak nanti jangan lupa Grist titip silver queen chunky bar ya?”
      ”Ih enak aja kamu nyuruh-nyuruh aku ?”
      ”Iya kamu paling nanti juga gak beli kan ? Paling kamu juga nanti dikasih sama Kak Genta. Ihiiir. Liat tu pipi tembebmu berubah merah kayak kepiting rebus J
      Deru knalpot menghentikan pembicaraan tiga perempuan sedarah tersebut.
      “Ma, Grist Meita berangkat dulu ya.”
      ”Iya ati-ati,” jawab Tante Restanti dan Gristia serempak.
      Angin malam yang semilir menyelinap masuk ke kulit yang membalut tulang-tulang yang menyusun badan Meita.
      ”Kamu kedinginan ya Kodok?”
      ”Ih sotoy banget kamu Cak,” jawab Meita gengsi sehingga ia terpaksa berbohong.
      ”Gak usah bohong deh. Udah ketahuan tangan kamu dingin kok. Pakai jaket aku ya?”
      Awalnya Meita enggan mengiyakan tawaran Genta. Akhirnya ia mau juga setelah dipaksa.
      Mereka memilih tempat duduk dengan view keramaian malam jalan di kota Kendatala.
      Obrolan mereka pun mengalir ringan dan penuh canda tawa yang mencairkan suasan kebekuan selama seminggu lebih ini.
      ”Cak apakah kamu masih akan sayang ma aku kalau aku nanti berangkat kuliah ?”
      ”Iyalah Kodok sayang. Aku akan setia menjagamu. Karena rasa yang sudah lama tumbuh ini sulit untuk dilenyapkan. Telah lama kusimpan di tempat khusus dalam hatiku.”
      ”Kamu gak lagi ngegombal kan ?”
      ”Mana bisa aku gombal Kodoook ?”
      ”Idih keliatan deh boongnya. Jelas aja kamu pintar ngegombal. Kamu aja udah terkenal playboy gitu kok. Hehehehe.”
      ”Haha sudahlah gak usah bahas itu lagi.”
      Mereka menikmati dinginnya malam berdua.
      Malam itu adalah malam yang indah bagi mereka pasangan yang tengah menikmati indahnya cinta J.
      Dua bulan berlalu.
      Meita sudah resmi menyandang status sebagai mahasiswi STT Telkom Bandung setelah melalui serangkaian acara OSPEK.
      Sejauh ini hubungan Meita dan Genta lancar-lancar saja. Terkadang muncul masalah-masalah yang membuat hubungan mereka semakin indah. Masalah itu mereka hadapi dengan mudahnya.
      Namun sayang. Baru dua bulan lalu merayakan dua tahun hubungan mereka, Genta tiba-tiba saja mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan mereka.
      Meita tentu saja kaget bukan main dengan keputusan tiba-tiba dan sepihak yang diambil sama Genta.
      Meita sedih banget. Dia gak bisa bohongin perasaannya kalau dia sudah sayang banget sama Genta. Dia gak ngira Genta bisa nglakuin hal setega ini padanya. Genta sanggup buat ngrobohin tembok cinta kokoh yang sudah mereka bangun selama ini.
      Bandung, 23 Desember 2010
      ” Orang yang aku sayang ninggalin aku karena jarak yang misahin kita. Dia udah punya penggantiku, tapi aku senang karena dia tetap kembali ke aku seberapapun jauhnya dia pergi. Awalnya aku gak peduli dengan orang lain selama aku bahagia. Tapi ternyata tetap sakit, aku sakit melihat dia dengan yang lain daripada ketika aku melepasnya. Kemudian aku sengaja membuat dia mau atau tidak akan tetap melepas tanganku. Dan sekarang usahaku berhasil, harusnya aku senangkan???????
      Tapi kenapa aku sakit yah???? Ya Allah aku sakit. Menyadari kalau kali ini aku memang benar-benar sudah kehilangan dia. Maafin Meita ya Allah. Meita menangis malam ini. L
      Kalimat-kalimat itu yang Meita tulis di diarynya. Malam itu Meita ngeluarin semua uneg-uneg dihatinya. Air mata pelan-pelan meluncur dari pelipis matanya.
      Arrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrggggggggggggggggggggggh Genta jahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!!!!!!! L ” teriak Meita.
      ”Apa si salahku ke kamu Gen?? Kok kamu tega banget ma aku. Apa kamu gak tau ya? Aku sayang banget ma kamu. Udah berkali-kali kamu nyakitin aku tapi aku maafin kamu terus kan? Sering banget aku dianggep bodoh ma temenku hanya gara-gara kelakuanmu???Gilaag banget ya aku bisa pacaran ma playboy .Busuuuuuk.” TT

      Guling jadi sasaran empuk kemarahan Meita. Dicabik-cabik, dipukuli, dibentur-benturkan ke tembok. Parah banget pokoknya.
      Paginya mata Meita sembab dan menghasilkan mata panda yang menghiasi muka manisnya.
      Pikiran Meita nglantur kemana-mana. Konsentrasinya buyar.
      ”Jadi sudah begini adanya ya?? Hemmmmmmmmmmmmmmmmmph..Salaaah aku ternyata. Ya ya I see.. I know I’m nothing. Sadar kok . Mei Mei Meita. Inget Meit.” L
      Tiap hari selalu saja begitu. Meita menuhin diary, status di jejarsos (jejaring sosial) seperti facebook, twitter, blogg, ym, bbm, ovi, dll tentang perasaan di hatinya.
      ”Everything change. Everything falls apart. Life must go on. And I can’t stuck here. I’ll do recover my heart, and my life again. Everything. Don’t worry. I’ll be fine. J
      ”Sepertinya memang fondasi hubungan kita yang sudah rapuh dari awal. Maunya gini gini gini gini. Tapi gak ada guna. Gak ada perubahan sedikitpun dari Genta. Yasudahlah aku saja yang berubah. Berubah sebisa mungkin belajar gak sayang lagi ke dia.”
      ”I can keep my eyes just for him. Aku yang terlalu sayang atau bego ya ?? Kenapa aku bisa ngertiin kalau dia sebrengsek itu. Dan aku peduli. Hmmmp.. Kayaknya ada yang salah dengan aku.”
      Dan ini adalah tulisan yang paling menohok.
      ” Dear Genta.”
      ”Aku pernah bilang seberapapun sulitnya hubungan ini. Meski akan banyak hati yang terluka karena kita. Kita tau, kita gak segampang ini dipisahin. Masih akan ada banyak pelangi setelah hujan. Walaupun sudah punya yang baru masing-masing nantinya. Rasa kita masih sama. Masih ada. Dan masih dalem. Sekalipun jarak yang misahin. Kita pasti kembali lagi. Anything, that words always resound in my head. Dan cuma itu yang aku yakini. Aku sayang kamu apapun yang terjadi (my) love is blind. How many times you hurt me ?? I don’t know.. Sayangku ke kamu dah bener-bener nutupin rasa sakit buat hatiku. Mungkin Allah belum izinin kita. Allah pasti punya jalan yang indah buat kita. Allah tahu gimana rasa kita. Aku yakin Allah tahu. Izinkan aku sayang kamu karena Allah ya ?
      T_______T
      T_______________________________________T
      My head is telling me not to love you but my heart is telling me something different.. AWWWWWWWWWWWW J







                        This story is dedicated for my beloved sister J

wahh itulah sebuah Cerpen Tentang Cinta Jarak Jauh : Jarak Cinta yang sangat bagus sekali menurut saya, heheh mau tau gak biodata pembuat cerpen ini? 

  • Nama   : Shela Kusumaningtyas
  • TTL   : Kendal, 24 November 1994
  • Kelas   : 12 IPA 4
  • No Hp   : 085726878991
  • No telp rumah  : (0294) 383205
  • Alamat rumah  : Jl. Sri Agung No 38 Cepiring Kendal
  • Sekolah   : SMA Negeri 1 Kendal
  • No Telp sekolah  : (0294) 381136
  • Email   : kusumashela@yahoo.co.id , kusumacel@gmail.com
  • Fb    : shela kusumadepo nindityas
  • Twitter   : @celcolcil
  • Alamat Sekolah  : Jl. Soekarno-Hatta Kendal 51351 Jawa tengah

Buat yang suka buat cerpen maupun puisi jangan lupa kirim ke ke Blog remaja Indonesia Aneka Remaja .