Puisi Kemerdekaan Chairil Anwar Pahlawan 17 Agustus 1945

Puisi Kemerdekaan Chairil Anwar  Pahlawan 17 Agustus 1945 Oleh : A. Kohar Ibrahim DALAM mengungkapkan semangat perjuangan, sikap Chairil Anwar yang salah seorang tokoh Angkatan'45 itu, dapat kita nikmati dalam sajak-sajaknya seperti yang berjudul "Diponegoro", "Krawang Bekasi" dan "Persetujuan dengan Bung Karno"nya. Dalam « Diponegoro », jelas betapa apresiasi sang penyair atas semangat perjuangan pahlawan tersebut dalam melawan kekuasaan penjajah : « Di masa pembangunan ini / tuan hidup kembali / Dan bara kagum menjadi api / Di depan sekali tuan menanti / Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali / Pedang di kanan, keris di kiri / Berselempang semangat yang tak bisa mati. » Sedangkan « Kerawang-Bekasi » adalah salah sebuah kreasi puisi kemerdekaannya yang amat menyentuh perasaan sekaligus menggugah pikiran yang mengobarkan semangat juang dengan segala pengorbanannya. Sajak itu merupakan suara jiwa pahlawan dengan semangat kepahlawanannya yang gugur di medan laga. Semangat yang menggelorakan semangat para pejuang demi membela dan mewujudkan kemerdekaan. Seperti ketegasannya lebih lanjut: "Ayo!". "Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji / Aku sudah cukup lama dengar bicaramu / dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu / Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945 / Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu / Aku sekarang api aku sekarang laut / Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat / Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar / Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh" (1948) Betapa plastis dan puitisnya semangat Revolusi Agustus diungkapkan oleh Chairil Anwar itu. Suatu pengungkapan kobaran api revolusi yang dinamis dan optimis. Ketegasan sikap dan keberpihakkannya juga menjadi anutan banyak penyair, seniman dan sastrawan lainnya. Sayangnya dia mati muda, dalam usia 25 tahun pada 1949. Dalam suasana genting dan genting pilihan jalan perjuangan: betekuk tunduk kembali menerima dikte kaum kolonialis dan imperialis atau meneruskan perjuangan agar bangsa Indonesia benar-benar mencapai kemerdekaan yang penuh? Kerna kaum kolonialis dan nekolim ternyata tidak sudi menyaksikan bangsa dan t Republik Indonesia benar-benar menjadi bebas merdeka. Kalau saja penyair Angkatan'45 Chairil Anwar panjang usia, tentunya dia akan lebih gigih dan lebih kreatif lagi dalam bidang seninya mengungkapkan gelora perjuangan bangsa Indonesia selanjutnya. Gelora perjuangan di bawah pimpinan Bung Karno untuk mencapai aspirasi kemerdekaan dengan mengayomi semangat persatuan bangsa yang besar demi menghadapi rongrongan kaum nekolim (neo kolonialisme dan imperialisme) yang dikepalai oleh imperialisme Amerika Serikat. Rongrongan kekuatan reaksioner internasional yang berkomplot dengan kekuatan reaksioner nasional berupa pemberontakan-pemberontakan di berbagai daerah. Seperti pemberontakan militeristis DI/TII, RMS, PRRI dan PERMESTA. Dengan puncaknya berupa kudeta militeristis yang berhasil di bawah pimpinan Letnan Jenderal Suharto - setelah secepat kilat mengatasi "Gerakan 30 September 1965" dpp Kolonel Untung. Suatu gerakan yang menamakan diri kaum militer progresip untuk membela kepemimpinan dan pemerintahan dpp Pangti ABRI/PBR Revolusi Presiden Sukarno yang garis politiknya adalah anti-feodalisme dan anti-nekolim yang dikepalai kaum imperialis Amerika Serikat. Kudeta kaum militeris fasis telah menumbangkan rezim Orde Lama dibawah pimpinan Bung Karno yang anti-feodalisme dan anti nekolim serta hendak membawa masyarakat Indonesia mewujudkan Sosialisme Indonesia. Kudeta itu terkenal juga sebagai kudeta merangkak. Di mulai dari 1 Oktober 1965 dengan segala tipu-daya, dusta dan rekayasa serta kekerasan luarbiasa hingga dikeluarkannya Super Semar. Yang kemudian diabsahkan oleh Tap-tap MPRS yang direkayasa demi pelucutan dan pembinasaan sama sekali kekuasaan Bung Karno. (Akibr)Puisi Kemerdekaan Chairil Anwar  Pahlawan 17 Agustus 1945
baca juga :
Mobil Keluarga Terbaik Di Indonesia
KerajaanHosting Masa Depan Hosting Indonesia

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/1642663-puisi-kemerdekaan-chairil-anwar/#ixzz1V0yF1LOL