Cerpen Mistis | Cerita horor : Misteri Si Kunti : Misteri Si Kunti

Cerpen Mistis | Cerita Horor : Misteri Si Kunti huaaaaaa, pasti seram ni cerita dari judul aja udah ngeri, nkalau kalian sudah mulai penasaran dengan cerpen horor bin mistis silakan dibaca deh, biar Kalian gak penasaran lagi, silakan dibaca sahabat ANEKA
Waduh kemaleman lagi neh. Kebut aja deh. Tambah gas. Ga beres Bos Jarot nih. Lembur nggak tanggung-tanggung. Ini sih kerja rodi namanya, bukan lembur. Segala nyetir keluar kota mesti aku yang diutus, weleeh. Yang laen kan bisa? Huh!

Dah hampir tengah malem pula. Untung jalanan dah sepi. Bisa geber abis gasku. Baru kali ini aku lega karena ga ikutan modif knalpotku. Wahaha. Bayangin aja kalo sepi gini tiba-tiba suara cempreng knalpot membahana. Weks, orang tidur bisa langsung mati kali, kena serangan jantung.

Nah tuh dia udah hampir sampai jembatan rubuh. Haha. Ya iyalah rubuh. Mana ada jembatan berdiri. Ga bisa lewat dong kita? Mo langsung vertikal ke langit?

Duh jadi deg-degan deh. Asem! Gara-gara si Bos nih, tengah malem gini malah harus lewat di jembatan Ancol...wehehe saking seremnya jadi dinamain kayak jembatannya Si Manis tuh.

Kata Gombing sih, jangan liat spion deeh. Lah kalo emang hantu... kan ga bisa diliat dari cermin kan? Ehm, mitos aja kali.

Aduk Mak...tuh dia jembatannya dah muncul. Semoga ga ada apa-apa yang muncul. Aduh Noy...napa juga sih kamu pulang, napa ga nginep di kantor aja sih. Ntar kalo ketemu setan gimana nih.

Kinoy komat-kamit merapal segala macem doa yang terlintas di kepalanya. Dan dengan segala ketakutan yang membuat kuduknya meremang, Kinoy bukannya menancap abis gas motornya, dia malah merenggangkan genggamannya pelan-pelan. Seperti ada daya tarik magis saat dia semakin mendekat ke jembatan itu. Kinoy pun tak tahu kenapa.

Jembatan itu cukup lebar. Selebar jalan raya ini. Pohon-pohonan di tiap sampingnya menambah seram suasana. Cukup rimbun. Bambu-bambu yang tinggi, tunas-tunasnya ramai memucuk. Apalagi dekat daerah persawahan yang luas itu, sepinya semakin menggigit. Gesekan dedaunan melantunkan simfoni malam yang menyayat. Melengkapi suasana horor di hati Kinoy.

Begitu sampai di pertengahan jembatan, Kinoy malah menghentikan sama sekali mesin motornya. Benar-benar ga masuk akal. Katanya takut. Katanya horor, lha kok malah madheg jegreg.

Kinoy menatap heran ke samping kiri jalan, tanpa horor sedikitpun, pada perempuan setengah baya yang duduk di pagar jembatan, yang menatap balik padanya. Pandangan matanya sendu. Sedih. Mengharap. Tapi juga... putus asa. Kinoy merasa sakit untuknya. Untuk beberapa saat mereka hanya berpandangan.

Cantik, batin Kinoy. Tapi sedih sekali. Kasihan sekali. Rasanya aku ingin ke sana merengkuhnya. Blus sutera biru laut dan rok hitam panjang itu sesuai banget buat wajah cantik yang sedih itu. Rambut ikal sebahu yang hitam membingkai wajah ovalnya yang pucat.

“Kamu Kinoy,” suara gadis itu, ringan, bening mendenting. Memecah hening malam, menyela gemerisik daun-daun rimbun.

Kalimat itu bukan bertanya, pikir Kinoy. Hanya menegaskan. Dia sudah tahu namaku. Darimana? Ha ha, jadi berasa seleb deh.

Jadi Kinoy hanya mengangguk sekali. Dia tak merasa perlu untuk mempertanyakan darimana gadis itu tahu namanya.

“Kamu?”, tanya Kinoy, masih terpesona.

Gadis itu tersenyum, membuka sedikit bibirnya, memperlihatkan sederet gigi miji timun yang putih bersih. “Kunti.”

“Kunti...as in...Dewi Kunti, istri Pandu Dewanata? Nama yang cantik.” Kinoy menimpalinya pelan. Dan dalam hatinya dia menyambung, “Dan nama yang membawa nasib yang menyedihkan. Bunuh diri, membakar diri, untuk menemani sang suami yang mati duluan.” Dan mengapa nama itu sepertinya pas banget buat Kunti, seolah dia memang bernasib sesedih itu? Benak Kinoy penuh tanya, tapi tak dilontarkannya. Kinoy hanya berharap mereka masih bisa terus bicara. Memandangnya dan bicara dengannya bagai sebuah kemewahan yang indah bagi Kinoy.

Kunti hanya tersenyum sedih mendengar komentar Kinoy tentang namanya. Gigi-giginya kembali bersembunyi dalam bibir tipisnya.

“Kau tak berpikir namaku Kunti...as in... Kuntilanak.” Tiba-tiba Kunti menyeringai.
Nampak gigi taringnya yang putih. Tetap cantik. Tapi... jahat!

Seperti melayang, Kunti tiba-tiba mencekik Kinoy. Jantung Kinoy berdegup kencang. Kaki-kakinya gemetar. Rasa kagum bercampur dengan takut. Kagum sekaligus takut pada si cantik nan beringas mengerikan. Cantik, kuat, jahat.

“Akkk.. Kau.. mau bunuh aku??”, serak Kinoy bertanya serak, pasrah tanpa bisa membela diri.

Kunti tersenyum miring, sinis,”Mudah saja buatku melakukannya, kau tahu.” Lalu dia merenggangkan cengkeramannya. Kunti tertawa pelan, “Bahkan kau tak bertanya sedikit pun tentang tempat dan waktuku muncul di hadapanmu. Naif sekali, Kinoy.”

Tergagap, Kinoy menegakkan kakinya yang limbung, “Jadi kau...kuntilanak, bukankah seharusnya kau lebih menyeramkan, maksudku...kau...cantik.”

“Kami jin, atau makhluk halus, atau lelembut, terserah bagaimana kau menyebutnya... kami bisa mengubah bentuk kami sesuka kami. Mungkin kau pernah dengar cerita tentang seorang istri yang tidur dengan suaminya yang mendadak batal pergi ke luar kota? Seminggu kemudian suaminya datang dari kota, sangat rindu bercinta dengannya, sedangkan si istri tak merasa sekangen itu, karena suaminya bersamanya terus semingguan itu.”

Perubahan wajah Kinoy seperti mewakili pemahaman barunya. Pelan tapi pasti pemahaman itu merasuki kesadarannya. Jadi itu sebabnya, batin Kinoy, mengapa pasutri yang mau bercinta kudu berdo’a dulu. Agar tak ada jin yang ikutan nebeng? Wah, kalo saja aku punya sedikit kemampuan jin gendruwo itu, pikirnya nakal. Hush! Sergah sisi batinnya yang lain. Oke, fokus ke si Kunti cantik ini.

“Jadi, ini bukan wujud aslimu?”, tanya Kinoy.

“Hmmh, kalian manusia tak kan pernah tahu,” senyum misterius kembali menyulam bibir pink itu.

“Oke...kalo gitu Kunti, apa yang kau lakukan disini? Mencari korban untuk...apa?” Kinoy tak tahu apa tepatnya korban bagi lelembut cantik ini.

“Aku sudah lama ngikutin kamu, Noy. Karena aku terkesan padamu. Kamu orang yang...baik,” Kunti membuat pengakuan itu. “Aku hanya ingin ngobrol saja denganmu. Boleh kan?” pinta Kunti.

“Aku...lebih dari senang bisa ngobrol sama kamu juga,” aku Kinoy, tersipu, tersanjung. Gila! Baru saja dia lolos dari cengkeraman tangan Kunti yang super itu, dan sekarang...tersanjung karena Kunti... ingin...ngobrol. I must be crazy! Teriak Kinoy dalam hati.

“Yah, sampai ketemu lagi, kapan-kapan,” kata Kunti. “Mungkin saja aku tiba-tiba ada di kantormu, jadi jangan kaget ya.”

Enggan pergi meninggalkan Kunti, Kinoy bertanya lagi,”Mmm, dimana kau tinggal, Kunti?” Dan Kinoy merasa itu adalah pertanyaan yang bodoh. Tentu saja di kuburan kan, pikirnya. Damn!

“Pasti kau memikirkan tempat sepi macam kuburan sebagai rumahku kan? Atau sebuah puri atau kastil yang menyepi dari keramaian? Rumah kami, para jin, ada di tempat yang berbeda dari dimensi kalian. Kami bisa melihat kalian dari tempat kami, tapi kalian tak bisa melihat kami.” Jawab Kunti misterius.

Kinoy cuma melongo mendengarnya. Tak bisa membayangkan sedikitpun dunia para makhluk halus. “Oooh, oke. Kalo gitu... sampai ketemu lagi ya.” Ragu-ragu dia kembali ke motornya. Berjalan mundur sambil memperhatikan Kunti. Menancapkan memori tentang wajah dan rambut ikal itu. Melambaikan tangannya pada Kunti, Kinoy memasang jaket dan kacamata hitamnya. Lalu melihat ke arah Kunti lagi.

“Pergilah,” kata Kunti agar Kinoy bisa lebih legowo untuk pulang malam itu. Lalu sepeda motor itu melesat memecah hening malam.

****
Wow. Aku bertemu dengan gadis tercantik, teranggun di dunia...dan ternyata dia dari jenis makhluk yang berbeda. Duuh, nasib... nasib. Hmm, I wonder... apa aku bisa menikah dengan jin? Aku sama sekali ngga pernah berpikir tentang ini. Apakah ini mustahil? Dan lebih lucu lagi karena dia juga, kelihatannya siih, dia juga suka padaku. Ge er kah aku? Kayaknya aku udah mulai gila nih. Ge er ditaksir oleh jin cantik. Kayak di film Jeanny oh Jeanny saja.

Kalo aku ceritain ini sama Bos Jarot, apa doi bakal percaya ya? Aku bener-bener butuh second opinion nih. Siapa tahu doi kenal seseorang yang ngerti hal ghoib beginian.

***
“Noy. Nih, tolong anter file ini ke Pak Bupati ya. Sekalian kamu yakinkan beliau untuk menerima usulan proyek kita.”

“Oh. Oke Bos. Kamu sendiri ngga mau ketemu si Bapak toh? Bukannya kemaren kamu bilang ada janji sama beliau?”

“Ngga bisa, Noy. Aku harus nunggu klien setengah jam lagi. Penting mereka ini. Makanya, kamu aja yang ke sana ya. Ngga pa-pa kan?”

“Woke kalo gitu... Ngg, Bos, manusia ama jin tuh bisa nikah ngga sih? Kamu tahu tentang ini ngga?”

“Haa?” Bengong Bos Jarot mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. Entah karena tiba-tiba ditanya atau karena pertanyaannya yang aneh. Tiba-tiba Jarot tertawa ngakak. Cukup lama. Dia tertawa sampai perutnya sakit dan mata nrocoh, terbit air matanya. Setelah mereda tawanya dia baru bisa ngomong,”Kesambet setan mana sih kamu, Noy? Tumben-tumbenan nanya pernikahan. Jin lagi pasangannya. Jangan kau kira aku bakal terkibuli dengan gaya nanya yang SOK nyantei itu.” Jarot menyipitkan matanya menatap mata Kinoy. Mengebor kedalamannya seolah dengan begitu semua kebenaran di hati Kinoy akan terpampang.

Bahu Kinoy berjengit sedikit mendengar betapa sobatnya yang juga bosnya itu sangat mengenalnya sampai tahu maksud pertanyaan santai tapi seriusnya. Dan dia semakin nervous dengan pencarian Jarot ke dalam matanya. Damn! Aku seperti anak ayam yang ngga mungkin nantang diadu dengan Si Jago. Tapi jelas Jarot ngga percaya kalo aku bilang sekedar penasaran sama gosip tentang orang yang nikah sama jin. Emang bukan kebiasaanku ngomongin gosip. Bleh!

“Jadi? Apa kau bener-bener kesambet setan? Apa karena ngotot pulang tengah malem kemaren?”

Tersenyum kecut, Kinoy mengangkat bahunya.

“Yaa ampuun. Dimana? Gimana? Ceritain... selengkap-lengkapnya. Tapi nanti. Ini klien udah mau datang. Oke, Noy?”

“Hhh, woke..woke... .” Sambil ngeloyor ke parkiran deket lobi kantor. Dasar otoriter! Rutuk Kinoy dalam hati. Ah, sudahlah ntar diceritain apa adanya aja deh. Nothing to loose ini.

Di parkiran, Kinoy terlonjak kaget saat mau menstarter motornya. Hampir saja dia menubruk Kunti.

“Wew, Kunti. Kau bener-bener muncul di siang bolong. Wah..wah..,” girang Kinoy melihatnya. “Tapi ngga apa-apa nih kalau ada orang lain lihat kamu?” tanyanya, tidak setuju dengan kemunculan Kunti di tempat publik, sambil celingukan takut ada orang lain memergoki keberadaan Kunti.

“Hanya orang yang kami kehendaki yang bisa melihat kami. Aku aman.” Geli, Kunti tersenyum melihat polah Kinoy. “Aku dibonceng ya, Noy.”

“Bukankah kau bisa terbang atau teleport atau semacam itu? Atau jin jaman sekarang suka pake ojek?” ledek Kinoy sambil nyengir kuda, padahal hatinya berbunga-bunga karena akan membonceng cewe cantik, walaupun ngga bisa pamer ke siapapun. Karena ngga akan ada yang lihat Kunti.

“Atau kau saja yang kugendong sambil terbang, hm?” tantang Kunti.

Kinoy melongo, lalu memutar bola matanya ke atas. “Woke, sini aku boncengin.”

Motor melaju membelah arus lalu lintas yang cukup padat dan panas. Tapi semua itu tak sanggup merusak mood Kinoy dan Kunti. Mereka terlalu asyik bertukar kata.

Asyik sekali hari, gumam Kinoy. Ngebut sekenceng ini dan ngga nabrak apapun.
Kayaknya jalan raya yang padat ini gampang aja buat motorku. Nyelip ke tengah keramaian, tapi tetap melaju dengan mulus. This is awesome! Ini ngga nyata. Aku yakin itu. Pasti karena boncengin Kunti. Jin bisa melakukan ini kan. Pasti. Supranatural. Uh! Kereen, hati Kinoy bersorak.

***