Cerita Horor | Cerita Mistis - Hospital

Cerita Horor | Cerita Mistis - Hospital cerita ini sangat menakutkan serta menegangkan, berikut cerita yang sangat mistis itu, moga kalian gak merinding bacanya ya...xixixixiixixi , silakan di baca sahabat Aneka

Umur tigapuluh lima dan diangkat menjadi direktur rumah sakit adalah prestasi yang membanggakan. Ya, dr. Alex Priambodo nama lengkapnya. Belum menikah. Dari namanya bisa ditebak Alex ini keturunan Jawa. Karier gemilang membawanya menjadi pimpinan Rumah Sakit Umum Daerah Carterry, satu dari lima distrik di Kartel Utara.

Pagi ini Alex mulai menempati ruangan barunya, yang bertuliskan Direktur Utama di bagian luar pintu, dengan huruf emas. Ruangan yang berwibawa, berbau harum melati dan bersih, bernuansa putih khas rumah sakit. Tapi agak dingin dan lembab. Menurut anak buahnya ruangan ini sudah tidak ditempati selama lima tahun, sejak dirut yang terakhir masuk rumah Sakit Jiwa dan meninggal di sana.

****

Malam ini terpaksa Alex lembur sampai malam. Sebagai direktur Utama, dia merasa harus memperbaiki bagian manajemen yang menurutnya agak berantakan di berbagai sisi. Sudah seminggu ini dirut muda itu mencermati berkas-berkas yang jumlahnya melebihi diktat-diktat kuliahnya. Dari mulai pengaturan pekerja serta manajemen poliklinik dan bangsal, cukup membuat Alex memaksa diri bekerja lembur, mesti tanpa diberi tambahan gaji.

Srek-srek..,suara pel lantai di depan meja kerja membuatnya mengalihkan pandangannya sejenak dari netbook dan tumpukan berkas. Ternyata Richard, tukang pel yang shift malam itu membuatnya sebal.

“Richard, sudah saya bilang sejak pertama saya lembur disini, ketok pintu kalau mau masuk, meskipun memang tugasmu mengepel seluruh lantai ini, termasuk kamar saya”

Pemuda berkulit putih pucat ini terlihat agak  kaget, “Maaf dok, tadi saya tidak tahu dokter masih lembur, maklumlah, malam-malam begini biasanya tidak ada orang hidup lagi” Jawab Richard sambil terkekeh.

Selalu jawabannya begitu, menyebalkan. Padahal jelas-jelas Alex sudah lembur seminggu, dan seminggu ini pula Richard masuk tanpa mengetuk pintu, tiba-tiba sudah berada di ruangannya.

Kembali Alex menghadapi berkasnya dan membuat beberapa catatan di netbooknya. Sesekali melirik Richard yang mengepel dengan rajin. Satu lagi kebiasaan Richard yang menyebalkan, sambil mengepel anak itu selalu sambil bicara kemana-mana. Menggosip dokter A, dokter B, serta semua masalah dengan kekasihnya. Dengan kondisi Alex yang penuh masalah ini, segala curhat itu hanya menambah berat kepalanya.

“Dokter, saya itu heran loh, kenapa kok pasien-pasien cewek itu pada kecentilan ya?, apa memang seperti itu kalau bertemu dokter muda..”

Kembali Richard membuat pernyataan yang membuat Alex menggeretakkan gerahamnya. Hanya karena dia direktur baru sajalah yang masih membuatnya bertahan beramah-tamah seminggu ini.

“Richard, kamu belum selesai mengepel disini? Saya kira lantainya sudah bersih..”

Alex berkata seperti itu sedikit dengan nada seperti mengusir. Mungkin sedikit sadar akan kecerewetannya, sambil menyeringai kecil Richard kemudian mengangkut ember serta alat pelnya keluar ruangan dirut. Ketika Richard membuka pintu ruangan, seketika ruangan yang berbau melati tersentak dengan bau amis dan dingin menyergap.

“Richard, tutup pintunya..”

Mungkin anak pel itu sudah terlalu jauh bergegas sehingga perintah dokter itu tidak dilaksanakan. Sambil menghela nafas berat, Alex berdiri melangkah ke pintu untuk menutup pintu. Alex hati-hati melangkah karena mengira lantai masih licin. Ternyata dugaannya tentang lantai yang licin salah, lantai itu telah kering.

“Hebat juga anak ini, pengepel lantai yang professional” pikirnya.

Tapi setelah diamati, meski kering, tapi keringnya benar-benar kering. Seperti tidak pernah di pel sama sekali. Tapi tadi jelas terlihat Richard membawa ember air, serta kecipak air saat anak itu menggerakkan pelnya kesana- kemari. Berarti memang sudah dipel. Sudahlah, Alex juga tidak ingin terlalu memikirkan masalah mengepel lantai, masih banyak yang harus dipikirkannya.

Setelah menutup pintu Alex hendak meneruskan pekerjaannya, kembalike meja dan kursi dirutnya.

Masih merasa bad mood, Alex melirik di dinding-dinding ruangan tersebut. Meski sudah seminggu, ruangan dirut ini masih menyimpan dan memajang banyak benda yang harus dikenalnya satu persatu. Kali ini matanya terpaku ke hiasan dinding, box kaca berisi koleksi pisau bedah kuno. Box ini memang agak terpinggirkan, di depannya ada rangka manusia yang biasa menghiasi ruangan dokter. Dan mitosnya, di setiap ruangan doter ahli, selalu digunakan rangka manusia yang asli. Alex pernah mendengarnya dari dosen pembimbingnya dulu. Entah benar entah karangan dosennya, yang jelas Alex memang pernah membuat rangka manusia asli dengan mengulitinya langsung dari mayat yang dibelinya dari bagian kremasi RSUD ini, dulu sewaktu tugas akhir.

Karena tertutup rangka manusia, box itu kurang terlihat. Selama kuliah di fakultas kedokteran, belum pernah dosennya memperlihatkan koleksi pisau yang sekomplit ini. Luar biasa.

Ada pisau ukuran kecil tapi setajam silet, pisau bergerigi, serta pisau yang agak besar lebih mirip celurit. Jelas ini adalah pisau pemotong, mungkin pemotong tulang. Alex melangkah mendekat ke box kaca tersebut dan menggeser pintu kacanya perlahan. Hawa dingin masih menyergap tulang-tulang mudanya.

PISAU AMPUTASI, ternyata benar. Pisau Pemotong Tulang, begitulah tulisan di bawah benda tersebut. Dengan hati-hati diambilnya pisau amputasi itu.

“BRAKKK…..!!!!!”

Suara semacam benda jatuh di depan pintu membuat jantung Alex tersentak keras.

“Richard, ngapain lagi kamu?”

Tidak ada suara apapun yang menyahut. Alex bergegas meletakkan pisau besar itukembali  ke box secara hati-hati. Kemudian bergegas membuka pintu untuk melihat apa yang terjadi di luar ruangan.

Memang benar tidak ada apa-apa. Rumah sakit yang dingin. Alex berjalan ke ujung lorong untuk melihat-lihat mungkin saja pelaku suara tersebut masih ada. Tiba-tiba dokter itu merasakan ketidaknyamanan berada di lantai atas ini. Keinginan untuk pulang segera mendesak otaknya.

“Rupanya memang harus pulang sekarang…”Alex bergumam sendiri.

Bergegas menuju ruangan dirut untuk mengambil laptopnya dan pulang. Tiba di depan pintu yang masih terbuka Alex kaget setengah mati. Richard sedang mengepel lantai di depan mejanya sambil mengomel tak jelas, seperti biasa memrotes sana-sini, sindir sana-sindir sini.

“Apa, bagaimana bisa kau kembali ke sini ..?” Teriak Alex sambil melangkah ke ruangannya.

Lebih kaget lagi di depan box kaca itu ada dokter tua, atau siapalah, yang jelas berjas dokter serta mengantongi stetoskop, memandang tajam ke arah Richard. Dokter itu berambut putih dan bermuka kaku dan masam.

“Siapa Anda..?Bagaimana bisa…” teriak Alex.

Namun bagai tak mendengar pertanyaan Alex, dokter itu diam saja. Sedangkan Richard masih mengomel tak henti-hentinya. Meski bingung luar biasa, kali ini Alex sedikit menyimak omelan Richard.

“Dokter harus hati-hati, banyak lho yang pingin menjatuhkan citra rumah sakit kita ini. Dan dokter tahu tidak, Vera, pasien dokter yang cantik itu sebenarnya adalah pacar Rubens, si kepala Lab. Saat tidak ada pasien, mereka sering masuk berdua di lab dan entah apa yang di perbuat dua orang itu. Saya takut Vera ini juga menggoda dokter, karena saya juga pernah lihat dokter dan Vera masuk ke ruangan ini …, memang apa sih yang Anda berdua lakukan?”

Alex terpaku, karena tanpa sebab yang diketahuinya, dokter tua itu membentak Richard,

“Apa maksudmu hah?, Vera adalah pasien spesialku. Kau !! Rendahan sepertimu tidak berhak berkata macam-macam tentang Vera!!!” selesai berkata demikian dokter tua itu mengambil pisau amputasi di box dan  menghunjamkan ke Richard.

***

Bunyi ringtone dan getar HP membangunkan Alex. Alex terbangun di meja ruangan dirut.

“Oh, rupanya mimpi”

Dilihatnya handphonenya yang masih berdering di sebelah netbooknya, ternyata MMS, dari Winda. Berisi foto-fotonya saat bermesraan dengan Winda di ruangan ini yang dilakukannya tiga hari yang lalu. Alex terkejut luar biasa. Tak disangkanya kelakuan mereka berdua di abadikan dalam foto seperti ini.

Tiba-tiba masuklah Matt, pemuda pengepel lantai yang tiap pagi mengepel lantai atas ini, termasuk ruangan dirut.

“Loh, dokter sudah datang ? ini baru jam enam dok, rajin amat”

“Matt, kamu lihat Richard?” sahut Alex tanpa menghiraukan pertanyaan Matt.

“Richard siapa dok?”

“Bukannya dia temanmu? Masuk shift malam..”

“Wah, satu-satunya pengepel ya cuma saya dok, kalau yang bernama Richard itu, dulu pernah ada. Lima tahun lalu, namun dia hilang sampai sekarang tidak ada yang tahu, bersamaan dengan mengamuknya dokter George, dirut RS ini saat itu. Beberapa saat kemudian dokter tua itu diringkus dan dimasukkan ke RS Jiwa karena membunuh Vera, pasien dan sekaligus selingkuhannya di ruangan ini. Hmm, dokter yang malang”

“…..”

“Kenapa dokter bertanya tentang Richard? Kabarnya dulu anak itu sering mengomel tak jelas. Membicarakan hal-hal yang tabu tentang pasien-pasien. Yah.., meski memang pasien seringkali tak berbeda juga ya dok, saat ini juga sama. Banyak pasien yang tidak benar, contohnya ada koq dok, satu pasien, namanya WInda. Cewek itu cantik dan pandai merayu dokter. Kabarnya beberapa dokter di sini pernah kena rayuan Winda…, hati-hati saja dok, bisa jadi Anda yang berikutnya, beberapa hari ini saya lihat koq dokter sangat akrab dengannya. Sampai-sampai masuk ruangan ini agak lama juga saya mengamati…………………”

Matt berkata begitu sambil tersenyum simpul.

Dokter Alex merah padam mendengar omongan Matt, apalagi melihat senyuman si pemuda pengepel lantai yang masih asyik dengan celotehannya sembari asyik mengepel ke sana-kesini. Dan Alex melihat dan merasakan di tangan kanannya terpegang pisau amputasi kuno itu yang entah sejak kapan ada di genggamannya.


*** 
 oleh : Ikhwan Alkaromainy