Cerpen Sedih : KEMATIAN YANG TERTUNDA

Cerpen Sedih : KEMATIAN YANG TERTUNDA

Sayup-sayup wanita itu mendengar suara orang berbicara. Sepertinya suara lelaki dan wanita. Suara mereka seolah berbisik, “Tapi, …nggak juga”. Mungkin mereka itu, sengaja mengecilkan suaranya, supaya tak mengganggu ketenangan orang lain. Mereka berdua terus berbicara dengan bahasa yang tak ia fahami. Sambil tangan mereka sibuk menepuk-nepuk pipi, membuka-mbuka mata, hingga terus kebawah, merata keseluruh tubuh.

“Ihg,…ini orang pada nggak sopan amat, sih! Masa mata orang dijenjet-jenjet kaya gini, sakit tahu…!“ umpatnya. Risih karena muka dan tubuhnya merasa disakiti oleh kedua manusia aneh tersebut. Penasaran membuncah dalam dada perempuan itu, kala mereka membuka bajunya, lalu mengorek-ngorek di bagian tubuhnya yang jelas-jelas sangat vital. Ia mencoba berontak, dan membuka mata. Namun,…….
Wanita ini tiba-tiba merasakan keganjilan pada dirinya.

“Ke,..ke..ke..napa…..! Ah, ke…kenapa mataku tak bisa dibuka!” pikirnya.
“Ada apa dengan mataku!” Seketika ia kalut, lalu mencoba untuk menggerakkan tangannya. Namun sayang, tangannya juga tak bisa bergerak. Ia bingung. Takut. Kali ini mencoba menggerakkan tubuhnya. Tapi sayang, kembali gagal. Badannya juga sama sekali tak bisa bergerak, walau sudah berontak sekuat tenaga. Namun, kembali sia-sia.
“Tidakkkk….!!!” jeritnya.
“Sial…!” kembali ia mengumpat suaranya, yang ikut-ikutan mogok tak mau keluar dari kerongkongannya.

Dia benar-benar bingung, tak tahu apa yang tengah terjadi padanya. Yang nyata, saat ini ia hanya merasakan kegelapan yang pekat. Yah, hanya hitam yang pekat. Walau ia bisa mendengar, merasa, namun kenyataannya tiada sesiapa yang bisa mendengarkan suaranya, walau telah berusaha sekuat tenaga bahkan menjerit.
“Apa yang terjadi padaku??”. Kembali wanita itu bertanya pada kegelapan yang kelam.

Dalam pekat, rekaman kehidupannya kembali berputar, lalu menyapa otaknya. Ia teringat pada hari indah, dimana dia dan kekasihnya baru merasakan kenikmatan bercinta. Sepertinya, yang ia rasa, dan ia ingat, siang tadi, dia masih merasakan betapa bahagianya menikmati hubungan bersama teman wanitanya. Yang katanya, sangat diharamkan oleh Tuhan, dan semua agama, bahkan oleh semua orang
Beuhg…!

“Persetan dengan mulut orang!. Toh aku yang melakukan, aku yang merasakan, dan aku pula yang menikmati kebahagian itu bersamanya.” Dalihnya. Ia memang tak pernah memperdulikan sindiran, atau cibiran dari orang-orang di sekelilingnya. Nafsu syetan telah membuatnya buta akan tatasusila. Bahkan ia tak segan-segan memamerkan adegan mesum bersama teman wanitanya dikhalayak ramai.

Wanita berjiwa lelaki itu, merasa bahagia hidup bersama teman wanitanya. Ia tak membutuhkan lagi kaum lelaki dalam hal berkasih sayang. Karena lelaki pulalah, dia menjadi wanita yang berjiwa lelaki. Ia bahkan lupa pada kodratnya, sebagai seorang wanita. Dan justru ia merasa harus melindungi kaum wanita. Ia benci pada orang-orang disekitarnya, yang suka menggurui dan memandang rendah padanya. Dan ia benci pada orang-orang yang menyuruhnya untuk kembali ke jalan yang benar, dengan khotbahnya.

“Munafik!” dengan kasar ia akan membentak sesiapa yang mencoba mendekati atau menasehatinya. Apalagi jika dia melihat wanita yang berkerudung panjang, ia pasti akan terkekeh menertawakan. Katanya, baju mereka lebih serasi buat mbungkus buah nangka di kampungnya. Aneh baginya matanya. Karena yang ia tahu, tubuh cantik wanita itu, harus diperlihatkan pada umum. Bukan malah ditutupi dengan kain goni, yang seharusnya untuk membungkus nangka agar cepat masak.

Taka lama kemudian, tiba-tiba kepala wanita itu terasa sakit luar biasa. Ia mengaduh, mengerang, namun sayang, ia tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya tak bergerak, dan matanya juga tak melihat. Hanya jiwanya yang meronta, karena raganya lara.

Tanpa diduga pula, suara guntur menggelegar didaun telinganya. Tubuhnya tergoncang hebat. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara gulungan ombak yang melesat kearahnya. Semakin lama, suara itu seolah semakin dekat, dekat, dan mendekat. Seketika pula, jantung wanita itu berdegup kencang. Suaranya yang di dengarnya seolah mengerikan pendengarannya. Matanya melotot, ketakutan. Namun nyata, tiada apa yang bisa dilihatnya, karena yang ada, hanya gelap dan pengap. Ia panic, dan ingin berlari untuk menyelamatkan diri, namun apa daya, tubuhnya pula tak mampu digerakkan. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya bergetar hebat, jantungnya berdegup dahsyat.

Wanita yang menganggap dirinya lelaki itu, menjerit histeris. Telinganya kembali menangkap suara-suara aneh yang membuat jantungnya berhenti berdegup. Suara itu dekat, sedekat tengkuknya. Dan pemisah suara itu, seolah hanya sebuah tembok kertas yang sangat tipis, sehingga ia bisa mendengar suara itu dengan jelas.

Walaupun ia tak melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, namun telinga dan imajinasinya mampu menggambarkan kejadian yang tengah terjadi di ruang sebelah. Suara jeritan-jeritan histeris ribuan manusia yang seolah tengah dijerang oleh panci dengan air yang mendidih, lalu bau gosong yang menyengat hidung, adalah kulit manusia yang seolah tengah dipangang dengan bara api, dan raungan-raungan orang yang seolah tengah terbelenggu oleh rantai-rantai yang berat dan menyiksa. Sungguh mengerikan telinga serta dadanya. Ternyata, wanita itu kini tak bernyali. Ia tak bisa lagi berlagak layaknya di dunia fana. Kini yang ada, hanya rasa takut yang mencekam jiwanya. Sungguh ia nyali manusia itu tak ada gunanya.

“Panas…! Panas…! Sakit….! Toloooong….!” Jerit mereka. Wanita itu ingin menutup telinganya. Namun sayang, tubuhnya tak berfungsi. Dan suara itu semakin terdengar keras, membuat kepanya rasanya mau pecah.

“Apakah mereka berada didalam air yang mendidih itu?” pikirnya
“Ya Tuhan. Tolong aku!. Aku takut. Tempat apakah ini? Mengapa gelap seperti ini?” rintih wanita itu. Dengan sisa kekuatannya, ia mencoba berontak dan memelototkan kedua matanya, agar ia bisa melihat dan mengetahui apa yang tengah terjadi sebenarnya.. Hal yang tiada terduga terjadi. Tembok itu memancarkan cahaya. Kini dengan jelas ia bisa melihat ribuan wanita yang menjerit itu. Benar, ia tengah tersiksa seperti dalam imajinasinya tadi. Seketika ia takut, ingin memejamkan matanya. Namun sayang, kali ini, matanya tak mampu lagi dipejamkan. Matanya melotot merekamkan kengerian. Api yang berkobar-kobar, dan membara itu, rupanya tengah melahap tubuh-tubuh manusia, dengan garangnya. Orang-orang menjerit, meraung dan tiada ampun. Bau hanyir dan gosong melambung keangkasa.

Sementara disisi lain, ia juga melihat pemandangan yang sama. Para lelaki dengan ketelangannya, tengah merintih mengaduh kesakitan serta panas yang sangat. Tubuh-tubuh mereka dibanjiri keringat. Muka-muka mereka menampakkan kengerian yang tiada terkira. Bola matanya seakan hendak terkeluar menahan panasnya api yang semakin ganas. Dan tubuh-tubuh mereka bagai ranting-ranting kering, api yang berkobar-kobar itu semakin lahap menggerogotinya.

Wanita itu menggelengkan kepala, lalu menangis sejadi-jadinya. Ketakutan kini telah merajalela dalam jiwanya.
“Tidak, …tidak,….tidak,..!!” jeritnya, sambil terus menggeleng-geleng ketakutan. Ia menyapukan pandangan kesegala arah, namun sayang tiada sesiapa. Yang ada hanya api, dan api yang semakin mengganas.

“Tolong aku…!!” salah satu wanita yang tengah berada dilautan api itu memohon.
“Lena…..!” pekiknya. Wanita yang telah lupa pada kodratnya sebagai wanita itu, kembali melotot, melihat kekasih hati berada didalamnya. Jiwanya tergoncang ingin menolong wanita tersebut, namun sayang, tembok penghalang yang tipis itu tak mampu ia sentuhnya. Abstrak.

“Panas…! Panas….! Ah,….! Uh…! Tuhan, kembalikan aku ke dunia. Aku berjanji tak akan melakukan hubungan dengan sesame jenis lagi. Aku akan mencari lelaki. Seperti yang engkau ajarkan. Aku berjanji Tuhan! Kumohon, lepaskan aku……! Sakit ……!” ucap mereka semua, yang tengah dijerang diatas air yang mendidih.

“Tuhan, di mana Engkau berada? Aku takut. Tolong aku!” ucap wanita itu. Ia menghiba, pada Tuhannya.
“Inilah tempat yang abadi, bagi mereka para pengikut kaum Luth, termasuk dirimu! Bukankah Allah Azza Wajalla, telahpun memberi peringatan bagi semua, penduduk bumi. Banyak sekali, bahkan orang-orang juga telah diutus oleh Allah, untuk saling mengingatkan, agar tidak mengikuti jejak kaum Luth. Allah telah mengingatkan mereka dengan penggambran-penggambaran siksaan yang mengerikan. Diantaranya, adalah "Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. (Surat Huud ayat 82). Bukankah itu salah satu gambaran azab yang mengerikan? Namun, mengapa kalian semua buta akan peringatan itu” Ucapan yang aneh di pendengaran itu, membuat dirinya semakin jatuh dan tertunduk.

“Tidak…..!! Tuhan, aku tak tahu, akan peringatan itu. Namun aku akan mencarinya kelak. Aku masih ingin hidup dan bertaubat. Kumohon Tuhan. Aku berjanji! Aku bersumpah akan bertaubat, dan jika Engkau kembalikan aku kedunia, aku takkan berbuat itu lagi. Kumohon Tuhan, tolonglah aku.” wanita itu bersimpuh, sambil terus menangis, memohon agar dikembalikan lagi kedunia. Ia terus menangis dan menangis, hingga tiada lagi air mata yang mengalir. Ia semakin ketakutan ketika melihat wanita-wanita itu ditusuk dengan besi panas kemaluan serta payudaranya. Betapa mengerikan hukuman Tuhan, jika untuk kenikmatan sesaat, pikirnya. Pemandangan yang sama juga terlihat, pada para kaum lelaki. Sungguh mengerikan.

Dalam ketakutan yang luar biasa, wanita itu jatuh pingsan. Saat sadar, pertama kali yang terlihat dalam pandangan matanya adalah langit-langit kamar yang putih. Kembali air matanya berderai, dan terus berderai. Ia mengguguk sendirian, dalam kamar yang sepi. Ia bersyukur, Allah telahpun mengembalikannya kedunia. Dada wanita itu terus bergemuruh, penuh sesak isak. Ia sesenggukan tak kuasa menahan bahagia.***

Epilog

Dua minggu kemudian, di Viktoria Park Hong Kong.

“Heboh Jeng....! Heboh….! Duh, ada berita heboh….!” Dengan tergopoh-gopoh, Yu Narti datang mengabarkan berita yang menurutnya menggemparkan, ke gengnya
“Ada apa Yu?” Tanya salah satu kawannya.
“Ingat sama lesbian yang mati di apartemen setelah melakukan hubungan itu gak? Yang keluarnya gak mau nrima mayatnya. Yang mau diedel-edel sama dokter HongKong buat otopsi penyelidikan tentang lesbianisme. Yang udah disimpan di ruang es selama hampir sebulan”
“Yeee,…sampean ini terlalu kebanyakan “yang”, Yu. “To the point aja napa” potong kawan yang lainnya.
“Nih, baca.” Dengan semangat berkobar-kobar, Yu Narti memberikan Koran pada gengnya
“Hiks,….Yu. Sampean ini sudah ketinggalan zaman. Ini berita sudah basi. Paling anaknya juga sudah libur lagi. Mungkin juga sudah cari gebetan baru. Biasa!!. Lesbi kan kaya gitu.” Seloroh Yu Sintren

Dua meter dari kawannan para pembobol iman dengan senjata ucapannya itu, duduk dua orang yang sedang belajar mengaji iqra. Mereka saling menatap, lalu menangis.
“Sabar ya, Nak.” Ucap seorang ibu, yang tengah mengajarinya mengaji.
“Berdoalah terus, mintalah pada Allah, agar melapangkan dadamu, meringankan bebanmu,serta mempermudah jalan serta urusanmu. Dan istiqomahlah dalam menjalaninya, yah.” Wanita yang masih kesusahan mengeja huruf hija’iyah itu mengangguk. Ia menunduk, dan kembali berderai.



"Allah mencintai orang yang bertaubat. Karena ia akan kembali ke padaNya"
Cerpen Sedih : KEMATIAN YANG TERTUNDA